Perak Tembus ATH: Ini Pemicu Utamanya
Harga perak (silver) mencetak rekor tertinggi baru (ATH) setelah pasar mencerna rangkaian data ekonomi AS semalam yang hasilnya campuran. Walau ada sisi data yang terlihat “oke”, mayoritas sinyalnya menunjukkan ekonomi AS mulai mendingin, dan itu biasanya jadi bahan bakar buat logam mulia.
Dari sektor tenaga kerja, penambahan pekerjaan tidak terlalu besar, sementara tingkat pengangguran naik. Buat pasar, ini tanda pasar kerja mulai longgar. Saat tenaga kerja mendingin, peluang The Fed untuk bersikap lebih “ramah” (tidak terlalu ketat) biasanya meningkat—dan itu mendukung perak.
Yang makin menguatkan sentimen adalah data upah. Kenaikan upah bulanan tercatat lebih rendah dari perkiraan, artinya tekanan biaya tenaga kerja ikut mereda. Kalau upah melambat, pasar sering menilai inflasi berpotensi ikut lebih jinak, sehingga imbal hasil (yield) dan dolar bisa menurun—kondisi yang sering bikin perak makin menarik.
Dari sisi konsumsi, datanya juga terbagi: retail sales headline datar, tapi core retail sales justru kuat. Ini bikin pasar melihat ekonomi tidak ambruk, tapi melambatnya nyata. Buat perak, kondisi ini bisa jadi “pas”: kekhawatiran resesi belum dominan, tapi ekspektasi suku bunga turun tetap hidup.
Indikator aktivitas bisnis (PMI) menunjukkan ekonomi masih ekspansi karena angkanya masih di atas 50, namun momentumnya melemah. Buat perak, ini penting karena perak bukan cuma logam mulia, tapi juga dipakai di industri. Jadi selama ekonomi masih bertumbuh tipis, demand industri belum hilang, sementara sisi “safe haven” tetap dapat dukungan.
Fokus berikutnya ada di data inflasi (CPI) besok Kamis. Kalau CPI lebih rendah dari perkiraan, pasar bisa makin yakin suku bunga ke depan lebih longgar—dan perak berpotensi lanjut kuat. Tapi kalau CPI malah panas, perak bisa rawan koreksi cepat karena dolar/yield biasanya ikut naik.(asd)
Source: Newsmaker.id