Minyak Menahan Arah, Trump Jadi Penentu
Harga minyak bergerak stabil karena trader memilih menunggu pidato Presiden AS Donald Trump di Davos, di tengah ketegangan baru antara AS dan sekutu Eropa soal Greenland. Pasar seperti menahan langkah: belum berani agresif beli, tapi juga belum cukup alasan untuk jual besar-besaran.
Sumber kegelisahannya jelas: dorongan AS untuk mengambil kendali Greenland membuat hubungan transatlantik makin panas dan memunculkan risiko perang dagang. Eropa memberi sinyal siap merespons jika ancaman tarif benar-benar jalan, karena dampaknya bisa menekan pertumbuhan ekonomi—dan kalau ekonomi melambat, permintaan energi ikut melemah.
Dari sisi fundamental, IEA memberi kabar campuran. Mereka menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 menjadi sekitar 930 ribu barel per hari, sekaligus sedikit memangkas perkiraan kelebihan pasokan. Tapi intinya sama: pasar masih menghadapi surplus besar yang menahan harga untuk naik terlalu jauh.
IEA juga menilai surplus pasokan global masih sekitar 3,69 juta barel per hari, meski sedikit lebih kecil dari perkiraan sebelumnya. Artinya, sekalipun geopolitik bikin headline ramai, pasar minyak tetap dibayang-bayangi cerita klasik: pasokan lebih cepat daripada permintaan.
Sementara itu, fokus lain datang dari Venezuela. Pemerintah AS disebut berencana membuka akses pembelian minyak Venezuela ke lebih banyak perusahaan trading, bukan hanya pemain besar tertentu—dan ini bisa menambah dinamika suplai di pasar. Namun untuk hari ini, kata analis, pasar terasa seperti “dikemudikan Trump”: faktor lain jadi kurang diperhatikan karena semua orang menunggu apa yang akan ia sampaikan di Davos.(alg)
Sumber: Newsmaker.id