Minyak Melemah, Risiko Gangguan Kazakhstan Mereda
Harga minyak turun pada Rabu (21/1), karena pasar mulai mengabaikan gangguan produksi sementara di Kazakhstan. Fokus bergeser ke satu hal yang lebih “berat”: perkiraan kenaikan stok minyak mentah AS, yang biasanya jadi sinyal suplai melimpah dan bikin harga tertekan.
Kontrak Brent turun 97 sen (-1,5%) ke $63,95/barel. Sementara WTI melemah 78 sen (-1,3%) ke $59,58/barel.
Padahal sehari sebelumnya, dua kontrak ini sempat ditutup naik hampir $1/barel (+1,5%) setelah Kazakhstan—anggota OPEC+—menghentikan produksi di dua ladang besar, Tengiz dan Korolev, sejak Minggu karena masalah distribusi listrik. Data ekonomi China yang kuat juga sempat memberi angin segar.
Namun pasar menilai gangguan itu sementara. Tiga sumber industri menyebut penghentian produksi bisa berlanjut 7–10 hari, tapi tetap tidak cukup untuk menahan tekanan dari potensi stok AS yang naik.
Analis IG, Tony Sycamore, menilai penghentian produksi di Tengiz (salah satu ladang minyak terbesar di dunia) dan Korolev hanyalah jeda singkat. Sementara itu, ekspektasi stok minyak AS yang meningkat plus tensi geopolitik masih akan terus “nempel” sebagai beban harga.
Dari sisi geopolitik, pasar juga dibuat gelisah oleh ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara Eropa bila tidak ada kesepakatan terkait ambisi AS untuk menguasai Greenland. Bagi pasar minyak, isu tarif itu sensitif karena berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi—dan kalau ekonomi melambat, permintaan energi ikut melemah.
Polling awal menunjukkan stok minyak mentah dan bensin AS kemungkinan naik minggu lalu, sementara stok distilat (diesel/solar) diperkirakan turun. Enam analis memperkirakan stok minyak mentah naik sekitar 1,7 juta barel untuk pekan yang berakhir 16 Januari.
Data inventori mingguan dari API dijadwalkan rilis Rabu malam waktu AS, disusul EIA pada Kamis—keduanya mundur sehari karena hari libur federal AS pada Senin.
Meski kenaikan stok biasanya bearish, analis Eurasia Group Gregory Brew mengingatkan ada faktor yang bisa menahan penurunan: potensi memanasnya lagi tensi AS–Iran. Trump bahkan sempat mengancam akan menyerang Iran terkait tindakan keras terhadap protes anti-pemerintah. Dari pihak Iran, muncul pernyataan keras bahwa serangan terhadap Pemimpin Tertinggi dapat memicu deklarasi “perang suci”.
Intinya: stok AS menekan harga hari ini, gangguan Kazakhstan dianggap cuma sementara, tapi risiko geopolitik—terutama Iran—masih bisa jadi “pemantik” yang sewaktu-waktu mengangkat harga lagi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id