Minyak Turun, Efek Greenland Bikin Pasar Tegang
Harga minyak melemah saat pasar global kembali tegang gara-gara dorongan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland. Sentimen risk-off muncul lagi, bikin investor lebih hati-hati ke aset berisiko, termasuk komoditas seperti minyak.
Brent turun mendekati $64 per barel, sementara WTI berada di bawah $60. Volatilitas minyak masih tinggi karena pasar sensitif terhadap headline geopolitik dan potensi perang dagang.
Isu Greenland ikut menggoyang hubungan AS–Eropa. Ketidakpastian ini menekan selera risiko, membuat saham melemah dan turut menyeret minyak, karena trader khawatir ekonomi bisa melambat dan permintaan energi ikut turun.
Pelaku pasar juga menunggu gambaran terbaru pasokan-permintaan dari International Energy Agency (IEA) yang akan merilis outlook bulanan. Ekspektasi besar saat ini: pasokan global dinilai berpotensi lebih cepat naik dibanding permintaan, sehingga pasar takut muncul “banjir suplai”.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyebut tekanan turun pada harga minyak dan gas bisa terjadi selama 3–4 tahun ke depan karena suplai yang besar, terutama dari AS dan beberapa negara lain. Ini memperkuat narasi bahwa reli minyak bakal sulit bertahan lama.
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada ekspor Venezuela. Trader memantau ke mana aliran minyak Venezuela akan bergeser setelah adanya intervensi AS awal bulan ini, apalagi sebelumnya banyak dikirim ke China.
Trump juga dijadwalkan memberi pidato di forum Davos. Menjelang pidato itu, pemerintah AS berjanji mengenakan tarif 10% pada delapan negara Eropa terkait sengketa Greenland—memunculkan risiko friksi dagang baru yang bisa menekan pertumbuhan dan permintaan energi.
Meski begitu, tidak semua sinyal bearish. Ada “kantong-kantong” pasar fisik yang masih ketat: spread kontrak dekat masih backwardation (biasanya dianggap bullish). Gangguan produksi di ladang besar Kazakhstan dan pembatasan pengapalan di fasilitas pipa Caspian Pipeline Consortium turut menopang pasar fisik.
Pada perdagangan siang di Singapura, Brent kontrak Maret tercatat turun sekitar 1,1% ke $64,18, sementara WTI kontrak Maret turun sekitar 1% ke $59,78.
5 poin penting :
- Minyak turun karena pasar gugup oleh dorongan Trump soal Greenland dan risiko geopolitik.
- Brent mendekati $64/barel, WTI di bawah $60; volatilitas tetap tinggi.
- Pasar menunggu outlook IEA, dengan kekhawatiran pasokan > permintaan (potensi glut).
- Ancaman tarif 10% ke negara Eropa menambah risiko perang dagang yang bisa menekan demand energi.
- Namun pasar fisik masih mendapat dukungan dari backwardation dan gangguan pasokan Kazakhstan/Black Sea.(asd)
Sumber : Newsmaker.id