Minyak Turun Tipis Jelang Pertemuan The Fed; Fokus Damai Ukraina
Minyak Turun Tipis Jelang Pertemuan The Fed; Fokus Damai Ukraina
Harga minyak sedikit melemah pada hari Selasa (9/12), yang memperpanjang penurunan tajam pada sesi sebelumnya seiring para pedagang mencerna kembali pasokan dari Irak dan perkembangan upaya perdamaian Ukraina menjelang pertemuan terakhir Federal Reserve tahun ini.
Pada pukul 04.40 waktu setempat (09.40 GMT), kontrak berjangka minyak Brent jatuh tempo Februari turun 0,3% ke $62,30 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3% ke $58,68 per barel.
Kedua kontrak tersebut sudah turun 2% pada hari Senin setelah langkah Irak memulihkan produksi di ladang minyak West Qurna-2, salah satu yang terbesar di dunia dan menyumbang porsi signifikan dari ekspor nasional.
Pembicaraan Damai Ukraina Jadi Sorotan
Para pelaku pasar tetap fokus pada konflik Ukraina–Rusia, dengan Ukraina memberi sinyal bahwa pihaknya akan menyampaikan proposal perdamaian yang telah direvisi kepada Amerika Serikat setelah pembicaraan di London antara Presiden Volodymyr Zelenskiy dan para pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris.
Prospek tercapainya kemajuan menuju kesepakatan damai berpotensi mengurangi sebagian premi risiko geopolitik yang selama ini tertanam dalam harga minyak mentah. Kesepakatan potensial juga bisa membuat aliran minyak Rusia kembali mengalir lebih bebas ke pasar global, yang dapat memberikan tekanan turun tambahan pada harga.
Namun, mencapai kompromi untuk mengakhiri perang masih kemungkinan besar akan sulit, karena Zelenskiy mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan terkait isu penyerahan wilayah, tuntutan yang terus didorong oleh Moskow.
Keputusan Suku Bunga The Fed dalam Fokus
Pasar juga menunggu dimulainya pertemuan dua hari Federal Reserve yang akan dimulai pada hari Selasa.
Investor secara luas memperkirakan pengumuman pemangkasan suku bunga pada hari Rabu, yang dapat memperkuat prospek permintaan dengan menurunkan biaya pinjaman dan mendukung konsumsi bahan bakar.
“Secara prinsip, kondisi orang Amerika condong untuk mencari kompromi,” katanya. “Tentu saja, ada isu-isu kompleks yang berkaitan dengan wilayah, dan kompromi di sana belum ditemukan.”(yds)
Sumber: Investing.com