Minyak Brent Stabil, Perdagangan WTI Kembali Dibuka
Harga minyak mentah Brent bergerak nyaris tidak berubah pada hari Jumat (28/11), sementara perundingan damai Rusia–Ukraina yang masih berlarut-larut menjaga risiko geopolitik tetap tinggi. Di saat yang sama, para trader juga menunggu hasil pertemuan OPEC+ pada hari Minggu untuk mencari petunjuk mengenai kemungkinan perubahan produksi.
Kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) kembali diperdagangkan setelah sebelumnya “membeku” akibat gangguan sistem di operator bursa CME Group yang disebabkan oleh masalah pendinginan di data center CyrusOne. Minyak Brent sendiri diperdagangkan di Intercontinental Exchange, atau ICE.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent bulan terdekat (Januari), yang akan kedaluwarsa pada hari Jumat, turun 14 sen, atau 0,3%, menjadi $63,15 per barel pada pukul 13.35 GMT. Kontrak Februari yang lebih aktif diperdagangkan di $62,70, turun 17 sen.
Minyak mentah AS West Texas Intermediate dibuka di $58,90 per barel, naik 25 sen atau 0,43% dari penutupan Rabu, karena tidak ada harga penutupan pada Kamis akibat libur Thanksgiving di Amerika Serikat.
Kedua kontrak tersebut menuju penurunan bulanan keempat berturut-turut, merupakan rangkaian penurunan terpanjang sejak 2023, karena ekspektasi kenaikan pasokan global terus menekan harga, meskipun secara mingguan keduanya masih naik lebih dari 1%.
Kekuatan margin kilang di luar musim biasanya justru membantu menjaga permintaan minyak mentah tetap kuat di beberapa wilayah, namun dampak bearish dari surplus minyak yang akan datang tetap memberikan tekanan pada harga, kata analis Rystad, Janiv Shah.
Survei terhadap 35 ekonom dan analis oleh Reuters menunjukkan mereka memperkirakan rata-rata harga Brent di $62,23 per barel pada 2026, turun dari proyeksi Oktober sebesar $63,15. Sejauh ini, acuan Brent telah rata-rata berada di $68,80 per barel sepanjang 2025, menurut data LSEG.
Sinyal bahwa kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia mungkin sudah dekat sempat membuat harga minyak turun tajam di awal pekan ini, namun harga kemudian pulih dalam tiga sesi terakhir seiring perundingan yang kembali berlarut-larut.
“Pasar berada dalam posisi terjepit di antara kondisi tidak adanya pelonggaran sanksi terhadap Rusia dalam waktu dekat, tetapi di sisi lain, meski negosiasinya lambat, masih ada harapan akan tercapainya kesepakatan di masa depan,” kata analis PVM Oil Associates, John Evans.
Pada hari Minggu, OPEC+ diperkirakan akan membiarkan level produksi minyak tetap tidak berubah dalam pertemuannya dan menyepakati sebuah mekanisme untuk menilai kapasitas produksi maksimum masing-masing anggota, menurut dua delegasi dari kelompok tersebut dan satu sumber yang memahami pembicaraan OPEC+ kepada Reuters.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, diperkirakan akan menurunkan harga jual resmi (OSP) minyak untuk pengiriman Januari ke pembeli Asia untuk bulan kedua berturut-turut, ke level terendah dalam lima tahun, karena tekanan dari suplai yang melimpah dan prospek surplus, kata beberapa sumber kepada Reuters pada hari Jumat.(yds)
Sumber: Investing.com