Brent Naik di Tengah Drama Ukraina, WTI Alami Gangguan Perdagangan
Harga minyak Brent menguat pada perdagangan Jumat (28/11), didukung ketidakpastian seputar perundingan damai Rusia–Ukraina dan menjelang rapat OPEC+ hari Minggu yang bisa memberi petunjuk soal arah produksi ke depan.
Kontrak Brent bulan Januari naik sekitar $0,15 (0,24%) ke $63,58 per barel pada pukul 07.38 GMT, sementara kontrak Februari yang lebih aktif juga menguat ke sekitar $62,99.
Sebaliknya, WTI AS justru “membeku” di $59,08 per barel, naik 0,73%, karena perdagangan dihentikan setelah terjadi gangguan sistem di CME Group akibat masalah pendingin di data center CyrusOne yang memukul seluruh kontrak futures dan opsi di platform Globex. Meski begitu, baik Brent maupun WTI masih berada di jalur penurunan bulanan keempat berturut-turut, tertekan ekspektasi pasokan global yang melimpah.
Dari sisi geopolitik, pasar minyak terus memantau dinamika perundingan damai Rusia–Ukraina. Isyarat bahwa kesepakatan damai mungkin sudah dekat sempat menekan harga minyak di awal pekan, namun harga kemudian rebound dalam tiga sesi terakhir karena negosiasi berjalan alot.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan draft proposal yang dibahas AS dan Ukraina bisa menjadi dasar kesepakatan di masa depan, namun jika tidak tercapai, Rusia akan terus berperang.
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan ke Moskow awal pekan depan, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut delegasi Ukraina dan AS akan bertemu untuk merumuskan formula perdamaian dan jaminan keamanan bagi Kyiv. Analis menilai, pasar enggan mengambil posisi agresif sebelum ada progres nyata atau justru kegagalan terang-terangan dalam pembicaraan ini.
Ke depan, perhatian juga tertuju pada rapat OPEC+ hari Minggu, di mana koalisi produsen minyak tersebut diperkirakan tidak mengubah level output namun mungkin menyepakati mekanisme baru untuk menilai kapasitas produksi maksimum masing-masing anggota.
Dari sisi makro, harga minyak turut ditopang oleh meningkatnya taruhan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi. Selain itu, jumlah rig minyak aktif di AS turun ke level terendah empat tahun, memberi sinyal kemungkinan perlambatan suplai dari produsen AS.
Kombinasi faktor geopolitik, kebijakan OPEC+, harapan pemangkasan suku bunga, dan penurunan aktivitas pengeboran inilah yang membuat minyak tetap bertahan di zona penguatan mingguan meski tren bulanan masih melemah.(yds)
Sumber: Reuters.com