Kekhawatiran Oversupply Batasi Kenaikan, Minyak Naik Tipis
Harga minyak sedikit menguat pada hari Kamis (20/11) setelah turun pada sesi sebelumnya, seiring penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan mengimbangi spekulasi bahwa upaya AS untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dapat menambah pasokan ke pasar yang sudah berlimpah.
Kontrak berjangka Brent naik 20 sen, atau 0,31%, menjadi $63,72 per barel pada pukul 07.14 GMT, sementara kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 22 sen, atau 0,37%, ke $59,66 per barel.
Kedua acuan minyak tersebut sedikit rebound setelah turun 2,1% pada sesi Rabu. Penurunan itu terjadi setelah laporan Reuters bahwa AS telah memberi sinyal kepada Ukraina untuk menerima kerangka kerja rancangan AS guna mengakhiri perang dengan Rusia dengan menyerahkan wilayah dan beberapa persenjataan, mengutip dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Harga turun karena spekulasi bahwa berakhirnya perang akan diikuti dengan pencabutan sanksi terhadap penjualan minyak Rusia, sehingga menambah pasokan ke pasar pada saat minyak juga disimpan di kapal tanker dan produsen utama telah meningkatkan output.
Dalam sebuah catatan pada hari Kamis, analis ING mengingatkan bahwa Ukraina kemungkinan tidak akan menyetujui rencana tersebut karena dapat dianggap lebih menguntungkan Rusia, namun "indikasi bahwa AS masih berupaya menyusun kesepakatan mengurangi sebagian kekhawatiran atas sanksi lebih lanjut terhadap Rusia dan juga seberapa ketat sanksi yang ada saat ini akan ditegakkan."
Memberikan sedikit dukungan bagi harga adalah penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan yang dilaporkan pada Rabu, yang mencerminkan peningkatan aktivitas kilang di tengah marjin yang menarik di negara konsumen minyak terbesar di dunia tersebut, serta tingginya permintaan ekspor untuk minyak mentah AS.
Persediaan minyak mentah turun 3,4 juta barel menjadi 424,2 juta barel pada pekan yang berakhir 14 November, menurut Badan Informasi Energi (EIA), dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk penurunan sebesar 603.000 barel.
Namun demikian, para analis juga menyoroti bahwa persediaan bensin dan distilat di AS justru meningkat untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan, sebuah tanda melemahnya konsumsi.
Pasar juga menanti dampak dari tenggat 21 November yang ditetapkan AS bagi perusahaan-perusahaan untuk menghentikan bisnis mereka dengan Rosneft dan Lukoil, dua produsen dan eksportir minyak terbesar Rusia.
Kedua perusahaan tersebut dikenai sanksi sebagai bagian dari upaya AS untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.(yds)
Sumber: Reuters.com