Emas Terkoreksi, Minyak-Gas Reli Pasca Ultimatum Hormuz
Emas melemah pada Senin (13/4) di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi setelah pembicaraan damai AS–Iran berakhir tanpa hasil dan Washington bersiap memberlakukan blokade terkait Selat Hormuz, yang memperdalam guncangan pasokan energi global. Bullion sempat turun hingga 2,2% ke bawah US$4.650/oz sebelum memangkas penurunan, setelah militer AS menyatakan blokade akan dimulai pukul 10.00 ET.
Lonjakan harga energi sejak konflik pecah meningkatkan risiko inflasi dan memperbesar peluang bank sentral menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan kembali mempertimbangkan kenaikan—kombinasi yang biasanya negatif bagi emas non-yielding. Tekanan juga datang dari penguatan dolar (indeks dolar naik sekitar 0,3%) dan pelemahan saham, sementara minyak dan gas kembali reli. Presiden Donald Trump menegaskan AS akan mencegat kapal yang membayar biaya ke Iran untuk “safe passage” di Hormuz, jalur yang sebelum perang menyalurkan sekitar seperlima minyak dan LNG global.
Di sisi permintaan, sebuah bank swasta Swiss disebut mulai menambah emas secara bertahap dalam portofolio klien setelah sebelumnya memangkas eksposur ke 3% dari sekitar 10%. Sementara itu, data BLS yang dirilis Jumat menunjukkan inflasi Maret melonjak terbesar hampir empat tahun, dengan kenaikan harga bensin menyumbang hampir tiga perempat kenaikan bulanan—memperkuat narasi inflasi energi.
Secara tren, emas masih turun sekitar 10% sejak konflik akhir Februari, meski sempat pulih belakangan ini ketika kekhawatiran perlambatan ekonomi mulai menahan ekspektasi suku bunga lebih tinggi. ANZ menilai emas berpeluang menguji lagi area US$4.650 namun cenderung bertahan di kisaran tersebut. Pada 10:02 London, spot gold turun 0,5% ke US$4.725,28/oz; perak turun 1,9% ke US$74,47/oz, platinum relatif stabil, dan paladium menguat. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id