Emas Terjebak! Kini Pasar Hitung Risiko Inflasi
Harga emas bergerak stabil dalam jarak yang sempit, ketika pelaku pasar menimbang risiko inflasi akibat perang di Timur Tengah dengan upaya meredam guncangan pasokan minyak. Ketidakpastian terhadap inflasi dan suku bunga membuat pergerakan emas cenderung tertahan meski tetap didukung permintaan lindung nilai.
Emas sempat naik hingga 0,5% dan bertahan di atas US$5.000 per ounce, setelah turun 0,3% pada sesi sebelumnya. Di saat yang sama, minyak kembali menguat setelah koreksi pertama dalam hampir sepekan, seiring Iran meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi dan AS bersiap melepaskan tahap awal cadangan darurat minyak mentah.
Presiden AS Donald Trump kembali meminta dukungan negara lain untuk membantu pengamanan Selat Hormuz, yang arus transitasinya masih nyaris macet. Konflik AS-Israel dengan Iran yang memasuki pekan ketiga menjaga premi risiko energi tetap tinggi dan memperbesar kekhawatiran inflasi.
Kenaikan harga energi ikut mengikis peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini menilai hampir tidak ada kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga pada pertemuan pekan ini, dan suku bunga tinggi biasanya menjadi faktor pembatasan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski begitu, emas masih naik sekitar 16% sepanjang tahun ini, ditopang oleh geopolitik dan kekhawatiran terkait independensi The Fed yang menjaga permintaan aset safe haven. Momentum penguatan termasuk melambat sejak perang dimulai pada 28 Februari, namun isu stagflasi—pertumbuhan melambat dengan inflasi tinggi—dinilai tetap mendukung emas dalam jangka panjang.
Dari sisi permintaan, minat beli di China disebut masih kuat. Arus masuk ke ETF emas berlangsung setiap hari sejak investor kembali dari libur Imlek pada 24 Februari, dengan akumulasi tambahan melebihi 17 miliar yuan berdasarkan perhitungan Bloomberg, sementara premi Shanghai berada di atas harga global yang mengindikasikan permintaan tetap solid.
Spot emas naik 0,4% menjadi US$5.026,75 per ounce pada 12.20 waktu Singapura. Perak naik 0,9% menjadi US$81,50, sementara platinum dan paladium juga menguat; indeks dolar Bloomberg naik 0,1% setelah turun 0,6% pada Senin. (asd)
Sumber : Newsmaker.id