Inflasi AS Melunak, Emas Balik Menguat
Harga emas melanjutkan penguatannya pada Jumat (13/2) setelah terpukul keras di sesi sebelumnya, saat pasar mencerna data inflasi AS yang lebih “jinak” dan kembali melirik aset aman di tengah memanasnya tensi Timur Tengah.
Emas spot naik +1,% ke $4.976,45/oz, setelah menyentuh level di atas level $5.000/oz sekitar 09:30 ET—rebound ini datang setelah spot sempat terjun >3% sehari sebelumnya.
Pemulihan juga terjadi di logam mulia lain: perak spot melesat +4,3% ke $78,945/oz setelah sebelumnya ambruk sekitar 10%, sedangkan platinum naik +1,6% ke $2.054,90/oz dan kembali bertengger di atas $2.000/oz. Kenaikan perak yang paling agresif mencerminkan “pantulan” kuat setelah gelombang likuidasi lintas-aset mereda.
Dari sisi makro, data CPI terbaru memberi ruang napas untuk skenario pemangkasan suku bunga tahun ini: CPI headline melambat ke 2,4% yoy (di bawah perkiraan 2,5%) dan naik 0,2% mom (di bawah ekspektasi 0,3%). CPI inti tercatat 2,5% yoy dan 0,3% mom (sesuai perkiraan). Angka ini bikin pasar menilai tekanan inflasi tidak memburuk—yang biasanya jadi sentimen positif buat emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil.
Namun, arah berikutnya tetap sensitif karena Fed masih menimbang dua “paket besar”: ketahanan pasar tenaga kerja dan inflasi. Selama narasi “suku bunga tinggi lebih lama” belum benar-benar hilang, reli emas cenderung tetap bertahap. Di saat yang sama, faktor geopolitik—terutama sinyal peningkatan kesiagaan AS di kawasan—ikut menahan potensi koreksi lebih dalam dan menjaga permintaan safe haven tetap hidup. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id