Emas Bertahan Kuat, Meski Data Tenaga Kerja AS Mengejutkan
Harga emas menguat pada Rabu (11/2) dan tetap bertahan di atas level psikologis US$5.000/oz, meski pasar baru saja menerima data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. XAU/USD terpantau di kisaran US$5.076/oz, naik sekitar 1% (real-time), menandakan minat beli masih aktif walau sentimen suku bunga sempat berbalik lebih “hawkish”.
Pemicu utamanya datang dari rilis Nonfarm Payrolls (NFP) Januari yang menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan dan tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Data ini langsung mengubah cara pasar membaca langkah The Fed: peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat mengecil, sementara ekspektasi penurunan berikutnya cenderung bergeser lebih mundur.
Namun, emas tidak otomatis melemah karena “cerita besarnya” belum hilang: volatilitas pasca-rally besar akhir Januari, kekhawatiran arah kebijakan, serta kebutuhan lindung nilai (hedging) menjelang rangkaian data lanjutan—terutama inflasi. Di saat yang sama, data konsumsi yang sebelumnya melemah juga masih membayangi, sehingga sebagian pelaku pasar menilai ekonomi belum benar-benar aman dari perlambatan.
Dari sisi pasar obligasi, data NFP yang solid mendorong penyesuaian imbal hasil (yield) dan menahan ruang reli emas supaya tidak terlalu liar. Bloomberg mencatat yield 10-tahun naik ke sekitar 4,20% dan pasar uang menggeser perkiraan timing pemangkasan suku bunga ke Juli dari sebelumnya Juni—kondisi yang biasanya jadi “rem” untuk emas, tapi kali ini tidak cukup kuat untuk membalikkan arah.
Ke depan, fokus trader biasanya akan mengunci dua hal: (1) apakah dolar lanjut menguat pasca re-pricing suku bunga, dan (2) apakah data inflasi memperkuat atau justru merusak narasi “Fed bakal lebih longgar”. Selama ketidakpastian itu masih tinggi, emas cenderung tetap punya bantalan—meski naiknya bisa lebih bertahap dan rawan “tarik-ulur” intraday. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id