Peringatan Overbought Jadi Nyata: Emas Turun Tajam
Emas mengalami jatuh terdalam dalam beberapa tahun terakhir pada Jumat, berbalik tajam dari reli “gila-gilaan” yang sebelumnya mengangkat harga ke rekor baru. Harga emas sempat anjlok hingga sekitar 8% dan menembus area psikologis $5.000 per ons, menandai koreksi yang brutal setelah pergerakan parabolik sepanjang Januari.
Reli emas setahun terakhir memang sudah memecahkan banyak rekor dan membuat volatilitas jadi ekstrem. Januari mempercepat semuanya: investor berbondong-bondong masuk ke aset aman karena kekhawatiran soal pelemahan nilai mata uang, isu independensi The Fed, perang dagang, dan ketegangan geopolitik. Tapi ketika pasar sudah “terlalu padat posisi”, sedikit pemicu saja bisa bikin pembalikan jadi besar.
Pemicu utama koreksi kali ini datang dari penguatan dolar AS setelah kabar—yang kini sudah dikonfirmasi—bahwa pemerintahan Trump menyiapkan Kevin Warsh sebagai ketua The Fed berikutnya. Dolar yang menguat biasanya jadi “beban” buat emas, apalagi setelah banyak investor sebelumnya memborong emas karena membaca sinyal Trump yang cenderung membiarkan dolar melemah. Alhasil, arus profit taking langsung deras ketika narasi pasar berubah.
Menurut Christopher Wong (OCBC), pergerakan emas ini “memvalidasi” peringatan klasik: naik terlalu cepat bisa turun terlalu cepat. Ia menilai rumor Warsh hanya menjadi pemicu, sementara koreksi sebenarnya memang sudah “waktunya” terjadi—pasar seperti menunggu alasan untuk membatalkan kenaikan yang sudah terlalu parabolik.
Meski ambruk, emas masih mencatat kenaikan besar sepanjang Januari, mendekati lonjakan bulanan paling tajam sejak 1980. Sejumlah indikator teknikal juga sudah lama mengibarkan bendera kuning—misalnya RSI emas yang sempat mendekati 90, level yang sangat jarang terjadi dan menandakan kondisi overbought. Dengan volatilitas setinggi ini, pasar menilai gejolak masih bisa berlanjut, dan level psikologis $5.000 tetap akan jadi area yang sangat sensitif.(alg)
Sumber: Newsmaker.id