Emas Turun Signifikan Setelah Reli Mencetak Rekor
Pasar logam mulia mengalami guncangan besar. Emas dan perak mencatat penurunan harian terdalam dalam beberapa tahun, berbalik tajam setelah reli “tajam” yang sebelumnya mendorong harga ke rekor tertinggi sepanjang masa. Pergerakan ini terasa seperti whipsaw: naik kencang, lalu jatuh mendadak dalam waktu singkat.
Pada Jumat, emas sempat turun hingga 8% dan menembus ke bawah US$5.000 per ons, sementara perak merosot hingga di bawah US$100. Gelombang jual juga merembet ke logam lain: tembaga turun hampir 4% di London, setelah sehari sebelumnya sempat melonjak dan menembus US$14.000 per ton untuk pertama kalinya—yang juga menjadi lonjakan intraday terbesar sejak 2008.
Sejak setahun terakhir, permintaan investor ke logam mulia memang melonjak—mencetak rekor demi rekor, membuat volatilitas makin ekstrem. Tekanan itu makin menjadi di Januari, ketika investor berbondong-bondong masuk ke aset safe haven karena kekhawatiran pelemahan daya beli mata uang (currency debasement), isu independensi The Fed, perang dagang, dan ketegangan geopolitik. Namun reli yang terlalu cepat membuat pasar “rentan patah” saat ada pemicu.
Pemicu koreksi kali ini datang dari dolar AS yang mendadak menguat, setelah laporan bahwa pemerintahan Trump menyiapkan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed—dan kabar itu kemudian terkonfirmasi. Penguatan dolar membuat logam mulia jadi lebih mahal bagi pembeli global, sekaligus memukul sentimen pasar yang sebelumnya ramai membeli emas-perak ketika Trump sempat memberi sinyal tidak masalah dengan dolar yang melemah. Seorang analis menyebut pergerakan ini mengingatkan “kisah klasik”: cepat naik, cepat turun—seolah pasar hanya menunggu alasan untuk membongkar reli yang sudah terlalu parabolik.
Lonjakan harga dan volatilitas membuat banyak pelaku pasar menyesuaikan model risiko dan posisi. Selain itu, pembelian besar-besaran call option ikut memperkuat momentum naik secara mekanis—karena pihak penjual opsi biasanya melakukan lindung nilai dengan membeli aset acuan saat harga naik, sehingga dorongan naik makin kencang. Ketika arah berbalik, efeknya bisa sama kuatnya: pelepasan posisi dan ambil untung beramai-ramai.
Meski anjlok, performa bulanan tetap tinggi: emas masih naik sekitar 18% sepanjang Januari, mendekati kenaikan bulanan paling tajam sejak 1980, sementara perak masih menguat lebih dari 40% sejak awal tahun. Sejumlah analis menilai skala koreksi menunjukkan banyak trader memang menunggu momen untuk take profit setelah kenaikan super cepat. Dari sisi teknikal, sinyal waspada juga sempat muncul—misalnya RSI emas yang sempat menyentuh 90, level yang sangat jarang dan biasanya menandakan kondisi overbought.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id