ECB Tahan Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian Tarif Perdagangan
Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis (24/7) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di tengah ketidakpastian ekonomi yang besar, karena Uni Eropa tengah berupaya menuntaskan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat sebelum akhir bulan ini.
ECB sebelumnya telah memangkas suku bunga dalam empat pertemuan berturut-turut tahun ini, menurunkan suku bunga deposito dari 3% pada Januari menjadi 2% pada Juni. Tahun lalu, ECB menurunkan suku bunga dari rekor tertinggi 4%.
“Lingkungan ekonomi tetap sangat tidak pasti, terutama karena perselisihan perdagangan,” ujar ECB dalam pernyataan resminya, sambil menambahkan bahwa proyeksi inflasi dan pertumbuhan bulan Juni masih sejalan dengan data terbaru.
Meskipun inflasi tahunan zona euro telah mencapai target 2% ECB pada bulan lalu, para pelaku pasar secara luas memperkirakan bahwa suku bunga akan ditahan pada Juli—terutama karena gejolak geopolitik. AS merupakan mitra dagang dan investasi bilateral terbesar UE, dengan nilai ekspor barang UE ke AS mencapai 503 miliar euro (sekitar $590 miliar) tahun lalu.
Namun hingga Kamis, masa depan hubungan dagang itu masih belum jelas, dengan kemungkinan diberlakukannya tarif dasar 15% terhadap semua impor UE ke AS, serta potensi langkah balasan dari Uni Eropa.
Risiko Pertumbuhan Cenderung Menurun
Dalam konferensi pers, Presiden ECB Christine Lagarde menyatakan bahwa ekonomi zona euro tampil lebih baik dari ekspektasi pada kuartal pertama. Ini sebagian karena eksportir melakukan pengiriman lebih awal sebelum kenaikan tarif, serta ditopang oleh konsumsi dan investasi swasta yang lebih kuat, peningkatan pendapatan riil, dan kondisi pembiayaan yang lebih longgar.
Namun, ia menegaskan bahwa risiko terhadap pertumbuhan cenderung ke arah negatif, terutama jika ketegangan dagang meningkat, yang dapat menekan ekspor, investasi, dan konsumsi, serta melemahkan sentimen bisnis dan rumah tangga.
Sebaliknya, jika ketegangan dagang segera mereda dan terjadi peningkatan belanja infrastruktur serta pertahanan di Eropa, maka pertumbuhan bisa melampaui ekspektasi dalam beberapa bulan ke depan, tambahnya.
Investor juga mengamati apakah ECB khawatir terhadap penguatan euro baru-baru ini, yang berpotensi menekan inflasi karena membuat impor lebih murah.
Lagarde mencatat bahwa euro yang lebih kuat bisa “menurunkan inflasi lebih jauh dari perkiraan”, sementara tarif global yang lebih tinggi bisa meredam tekanan harga, terutama jika negara-negara dengan kelebihan kapasitas produksi mengalihkan ekspornya ke kawasan euro.
Namun, ia juga mengingatkan risiko dari sisi sebaliknya, yakni jika rantai pasok yang terfragmentasi membatasi aktivitas ekonomi domestik dan mendorong kenaikan harga global. Belanja fiskal yang lebih tinggi dan cuaca ekstrem juga dapat memicu inflasi, katanya, menggambarkan situasi saat ini sebagai “tunggu dan lihat.”(yds)
Sumber: CNBC