RBA Bantah Tuduhan Terlambat Turunkan Bunga
Bank Sentral Australia (RBA) menepis kritik yang menyatakan bahwa mereka terlalu lambat dalam memangkas suku bunga, sehingga berisiko memicu peningkatan pengangguran secara tiba-tiba.
Lonjakan pengangguran pada bulan Juni tidak mengejutkan bank sentral, ujar Gubernur RBA Michele Bullock dalam pidatonya di hadapan para pelaku pasar keuangan pada hari Kamis.
Kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,3% pada bulan Juni—tertinggi sejak November 2021—telah diperkirakan oleh bank sentral pada bulan Mei, ujarnya.
"Penilaian kami secara keseluruhan pada saat perkiraan kami yang diperbarui pada bulan Mei adalah masih terdapat beberapa pengetatan di pasar tenaga kerja, dan kami memperkirakan pengetatan tersebut akan sedikit mereda selama sisa tahun ini," kata Bullock.
"Berbagai indikator mendukung penilaian ini, dan dalam banyak hal tidak banyak yang berubah," tambahnya.
Komentar tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan pada RBA untuk memangkas suku bunga karena inflasi telah kembali berada dalam kisaran target 2% hingga 3%, pertumbuhan ekonomi tetap lemah, dan pengangguran meningkat. RBA menuai kritik tajam awal bulan ini ketika mempertahankan suku bunga tetap meskipun pasar bertaruh akan adanya penurunan suku bunga yang hampir pasti. RBA menyatakan akan meninjau data inflasi kuartal kedua minggu depan sebelum mempertimbangkan penurunan lebih lanjut.
Bullock mengatakan beberapa kendala pasar tenaga kerja masih ada.
"Perusahaan terus melaporkan kesulitan yang signifikan dalam mencari pekerja, meskipun kendala ini telah sedikit mereda baru-baru ini," kata kepala RBA.
Biaya tenaga kerja per unit juga meningkat tajam, tambahnya.
Yang penting, Bullock mengakui bahwa inflasi dasar triwulanan baru-baru ini telah mendekati laju yang konsisten dengan titik tengah kisaran target tahunan.
Sumber: Newsmaker.id