Fed San Francisco Sinyalkan Pemangkasan Suku Bunga Bisa Ditunda
Presiden Federal Reserve San Francisco, Mary Daly, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa pemangkasan suku bunga 50 basis poin bulan depan bisa memberi sinyal yang salah kepada pasar terkait kondisi pasar tenaga kerja AS.
Laporan pekerjaan AS untuk Juli yang lemah serta data inflasi yang rendah telah meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan Fed bulan September. Ini akan menjadi pemangkasan pertama sejak bank sentral menghentikan siklus pelonggaran pada Desember tahun lalu.
Saat ini, investor hampir sepenuhnya memperkirakan penurunan 25 basis poin pada pertemuan 16-17 September, dengan probabilitas lebih dari 99% menurut Investing.com Fed Rate Monitor Tool. Namun, Menteri Keuangan Scott Bessent menyerukan pemangkasan lebih besar, 50 basis poin, dengan alasan revisi tajam penurunan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni dan Mei.
Dalam wawancara dengan WSJ, Daly mengatakan penurunan 50 basis poin “akan memberi sinyal urgensi yang tidak saya rasakan terkait kekuatan pasar tenaga kerja.”
“Saya tidak melihat itu. Saya tidak melihat kebutuhan untuk mengejar ketertinggalan,” ujarnya.
Meski begitu, Daly mengakui indikator pemerintah menunjukkan pasar tenaga kerja “tidak buruk saat ini,” tetapi arah perubahannya “mengarah ke arah yang salah.”
Bulan lalu, Daly termasuk dalam mayoritas pembuat kebijakan Fed yang memilih mempertahankan suku bunga di 4,25%-4,50%. Namun, kini ia mengatakan akan mendukung pemangkasan di September, sebagian karena tekanan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan awal banyak pihak.
Ekonom secara luas memperkirakan tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump akan mendorong harga lebih tinggi, meski sejauh ini dampaknya masih terbatas. Namun, kekhawatiran tetap ada bahwa efek penuh dari tarif tersebut akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Daly menegaskan prediksi sebelumnya untuk dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini masih masuk akal, tetapi tidak menutup kemungkinan tiga kali pemangkasan pada 2025 jika kondisi pasar tenaga kerja semakin “rentan.” Sebaliknya, jika inflasi kembali naik, pemangkasan bisa lebih sedikit.
Ia juga menyebut kebijakan moneter saat ini kemungkinan “terlalu ketat” untuk kondisi ekonomi sekarang dan perlu “penyesuaian ulang,” dengan langkah bertahap menuju kebijakan yang lebih netral dalam “setahun ke depan.” (az)
Sumber: Investing.com