Schmid Desak The Fed Lebih Ketat, Emas Terancam
Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid menilai kebijakan moneter AS saat ini belum cukup ketat untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%. Menurutnya, inflasi masih terlalu tinggi dan mengkhawatirkan sehingga The Fed perlu mempertimbangkan pengetatan tambahan.
Schmid menilai perekonomian AS masih tumbuh cukup tangguh, sementara pasar tenaga kerja berada dalam kondisi relatif seimbang. Situasi tersebut memberi ruang bagi bank sentral untuk lebih fokus mengendalikan inflasi tanpa terlalu khawatir memicu pelemahan tajam pada lapangan kerja. Sikap ini konsisten dengan pandangannya pada Juli bahwa tekanan harga tidak boleh dianggap sementara hanya karena dipicu energi atau gangguan pasokan.
Ia menyambut perbaikan data inflasi terbaru, tetapi menilai masih terlalu dini untuk memastikan tren penurunan harga akan berlanjut. Indeks harga PCE tetap menjadi ukuran utama yang digunakan Schmid untuk menilai tekanan inflasi karena mencakup pola konsumsi masyarakat secara lebih luas.
Investasi besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan turut menjadi perhatian. Pembangunan pusat data meningkatkan kebutuhan listrik, peralatan, tenaga kerja, dan modal sehingga dapat menambah tekanan harga dalam jangka pendek. Schmid menilai The Fed tidak boleh mengabaikan inflasi tersebut hanya karena berasal dari perubahan teknologi atau gangguan sisi penawaran.
Pernyataan Schmid memperkuat kubu hawkish di internal The Fed. Bank sentral sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, tetapi tiga pejabat memilih kenaikan sebesar 25 basis poin karena menilai inflasi berisiko semakin mengakar. Schmid bukan pemilik suara kebijakan tahun ini, tetapi pandangannya dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga perlu dipertahankan tinggi atau kembali dinaikkan.
Analisis Newsmaker: Pernyataan Schmid cenderung mendukung dolar AS dan yield obligasi, tetapi berpotensi menekan emas serta saham. Bagi emas, area US$4.050 menjadi support terdekat, disusul US$4.020–US$4.000. Resistance berada di US$4.100. Namun, tekanan hawkish dapat tertahan apabila harga minyak terus turun dan data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan, karena kedua faktor tersebut dapat mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga tambahan.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id