Shutdown Ancam Penerbangan AS, 11k Pegawai FAA Siap WFH
Pemerintah AS menghadapi potensi shutdown, dan dampaknya mulai terasa di sektor penerbangan. Otoritas Penerbangan Federal (FAA) menyatakan akan merumahkan lebih dari 11.000 pegawainya, atau sekitar seperempat dari total staf, jika pendanaan pemerintah tidak segera disetujui. Meskipun begitu, sekitar 13.000 pengatur lalu lintas udara (ATC) tetap diwajibkan bekerja demi menjaga keselamatan penerbangan, meski mereka tak akan menerima gaji selama masa shutdown.
Kondisi ini memicu kekhawatiran dari maskapai penerbangan besar seperti United, Delta, dan American Airlines. Mereka memperingatkan bahwa shutdown akan membuat sistem penerbangan melambat karena staf bekerja tanpa bayaran dan sebagian fungsi penting terhenti. Penumpang berisiko menghadapi penundaan penerbangan dan antrean panjang di pos pemeriksaan keamanan.
Selain FAA, lembaga keselamatan transportasi (NTSB) juga akan merumahkan sekitar 25% dari stafnya. Namun, mereka tetap akan menyelidiki kecelakaan besar, termasuk insiden fatal antara jet regional American Airlines dan helikopter militer. Keputusan ini berbeda dengan shutdown 2019, saat NTSB menghentikan sebagian besar kegiatannya karena kekurangan dana.
Dampaknya tak hanya teknis. Sekitar 50.000 petugas TSA yang menjaga keamanan di bandara juga harus tetap bekerja tanpa gaji. Selama shutdown terpanjang sebelumnya pada 2019, absennya staf meningkat tajam karena gaji tertunda, menyebabkan kemacetan parah di bandara. Jika terulang, industri perjalanan AS bisa kehilangan hingga $1 miliar per minggu, menurut U.S. Travel Association.(Ads)
Sumber: Newsmaker.id