Setelah India, Trump Bidik China dengan Tarif Dagang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan untuk memberlakukan tarif baru terhadap China. Kebijakan ini menyusul langkah sebelumnya yang menaikkan tarif impor India hingga 50 persen sebagai respons atas kerja sama energi negara tersebut dengan Rusia.
Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa Trump sedang mengkaji kemungkinan penerapan tarif baru terhadap produk China karena Beijing terus membeli minyak dari Rusia. Meskipun belum ada keputusan akhir, langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi tekanan ekonomi terhadap negara-negara yang menjalin hubungan dagang aktif dengan Rusia di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Kebijakan tarif terhadap India telah memicu gelombang kritik di dalam negeri. Sejumlah tokoh publik dan komedian ternama seperti Stephen Colbert dan Jimmy Fallon menyoroti dampaknya terhadap konsumen Amerika. Dalam acara televisi mereka, kebijakan tersebut dijadikan bahan satir, menyebut warga kini harus “set your clocks to more expensive,” mengacu pada potensi kenaikan harga barang impor sehari-hari.
Di sisi lain, negara mitra dagang seperti Australia justru diuntungkan dari kebijakan tarif ini. Dengan tarif yang lebih rendah untuk produk-produk asal Australia, ekspor daging sapi negeri tersebut ke Amerika Serikat melonjak 12% pada bulan Juli. Hal ini mendorong peningkatan signifikan dalam volume pengiriman, menciptakan peluang baru di tengah ketegangan perdagangan global.
Pemerintahan Trump berpendapat bahwa kebijakan tarif ini diperlukan untuk memperkuat industri domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara yang dianggap mendukung musuh geopolitik AS. Namun, para analis memperingatkan bahwa efek jangka pendek dari kebijakan ini dapat membebani konsumen domestik dan memicu ketegangan diplomatik yang lebih luas.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id