Iran Serang Fasilitas Listrik Kuwait, Konflik Timur Tengah Makin Memburuk
Iran menyerang fasilitas air dan pembangkit listrik Kuwait dalam serangan balasan terhadap Amerika Serikat pada Jumat (17/07). Serangan ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah semakin memburuk dan risiko terhadap infrastruktur sipil mulai meningkat.
Pemerintah Kuwait mengatakan sebuah fasilitas desalinasi dan pembangkit listrik terkena serangan pada hari Jumat. Sejumlah unit pembangkit mengalami kerusakan, sementara otoritas setempat berupaya memulihkan fasilitas yang terdampak dan telah membekukan kebakaran akibat serangan tersebut.
Kementerian Listrik dan Air Kuwait meminta warga menghemat penggunaan listrik untuk mengurangi tekanan pada jaringan. Kondisi ini menjadi perhatian karena Kuwait sedang menghadapi suhu ekstrem yang diperkirakan mencapai 50 derajat Celsius pada akhir pekan, sehingga kebutuhan listrik biasanya meningkat tajam.
Serangan tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi Iran terhadap Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Oman sejak malam sebelumnya hingga Jumat. Sebagian besar rudal dan drone besar disebut menargetkan pangkalan Amerika Serikat di wilayah tersebut. Namun, Iran belum mengonfirmasi bahwa pihaknya menargetkan infrastruktur sipil Kuwait.
Di sisi lain, Iran juga menyebut sejumlah fasilitas pasokan listrik di wilayah selatan negaranya diserang. Kawasan tersebut menjadi salah satu fokus serangan AS dalam beberapa hari terakhir. Washington menyatakan serangannya terutama menyasar infrastruktur militer Iran, seperti rudal, drone, dan radar, untuk menekan Teheran agar menghentikan serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Dari sisi dampak pasar, meluasnya serangan ke fasilitas sipil dan kawasan energi Teluk dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi. Jika eskalasi berlanjut, harga minyak berpotensi tetap tinggi, risiko inflasi global kembali menguat, dan aset berisiko seperti saham serta kripto bisa tertekan. Sementara itu, dolar AS dan emas bergerak fluktuatif karena pasar mencari perlindungan di tengah-tengah geopolitik. (asd)
Sumber: Newsmaker.id