• Thu, Jul 16, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

16 July 2026 06:39  |

AS Gempur Iran, Hormuz Makin Genting

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Rabu, menandai hari kelima berturut-turut operasi militer Washington. Serangan terbaru ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump berjanji akan meningkatkan tekanan sampai Teheran berhenti menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz dan bersedia membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.

Dalam operasi selama 90 menit, militer AS menghantam fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal di Pulau Greater Tunb, Teluk Persia, dekat Selat Hormuz. Gelombang serangan kedua kemudian dilakukan pada pukul 15.00 waktu AS bagian Timur, menurut keterangan Komando Pusat AS atau CENTCOM.

Di tengah eskalasi tersebut, Trump mengumumkan bahwa Iran telah membebaskan seorang warga negara Amerika yang ditahan sejak Desember 2024. Trump menyebut langkah itu sebagai “sikap niat baik”, meski belum memberikan rincian lebih lanjut terkait identitas warga AS tersebut maupun kesepakatan di balik pembebasannya.

Ketegangan AS-Iran kembali membesar setelah nota kesepahaman sementara yang diteken sekitar sebulan lalu hampir runtuh. Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan terkait akses bebas kapal melalui Selat Hormuz, jalur penting yang digunakan Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk lain untuk mengekspor energi.

Harga minyak pun kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Brent sempat bergerak di atas US$85 per barel dan mencatat kenaikan mingguan sekitar 13%. Pasar khawatir karena Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai AS menerima mekanisme hukum yang diinginkan Teheran, sementara IRGC menegaskan ekspor minyak dan gas kawasan harus tersedia untuk semua pihak atau tidak untuk siapa pun.

Dampaknya ke market, konflik ini berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan menghidupkan kembali risiko inflasi global. Jika jalur Hormuz tetap terganggu, biaya energi bisa naik lebih jauh, menekan aset berisiko, dan membuat bank sentral semakin berhati-hati dalam menurunkan atau menahan suku bunga. Namun, sinyal pembebasan warga AS bisa menjadi celah diplomasi jika kedua pihak kembali membuka ruang negosiasi.(gn)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
GLOBAL ECONOMY

Kanada Akan Mengumumkan Tarif Balasan Senilai C$29,8 Miliar ...

Kanada akan mengumumkan tarif balasan senilai C$29,8 miliar terhadap Amerika Serikat pada hari Rabu (12/3) sebagai tanggapan ...

12 March 2025 18:54
GLOBAL ECONOMY

Tiongkok Tegaskan AS Harus Membatalkan Tarif Sebelum Pembica...

Beijing menegaskan kembali seruannya kepada AS untuk membatalkan tarif sepihak terhadap Tiongkok, menggarisbawahi kebuntuan a...

8 May 2025 16:16
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai