AS Gempur Iran, Hormuz Makin Genting
Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Rabu, menandai hari kelima berturut-turut operasi militer Washington. Serangan terbaru ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump berjanji akan meningkatkan tekanan sampai Teheran berhenti menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz dan bersedia membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.
Dalam operasi selama 90 menit, militer AS menghantam fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal di Pulau Greater Tunb, Teluk Persia, dekat Selat Hormuz. Gelombang serangan kedua kemudian dilakukan pada pukul 15.00 waktu AS bagian Timur, menurut keterangan Komando Pusat AS atau CENTCOM.
Di tengah eskalasi tersebut, Trump mengumumkan bahwa Iran telah membebaskan seorang warga negara Amerika yang ditahan sejak Desember 2024. Trump menyebut langkah itu sebagai “sikap niat baik”, meski belum memberikan rincian lebih lanjut terkait identitas warga AS tersebut maupun kesepakatan di balik pembebasannya.
Ketegangan AS-Iran kembali membesar setelah nota kesepahaman sementara yang diteken sekitar sebulan lalu hampir runtuh. Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan terkait akses bebas kapal melalui Selat Hormuz, jalur penting yang digunakan Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk lain untuk mengekspor energi.
Harga minyak pun kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Brent sempat bergerak di atas US$85 per barel dan mencatat kenaikan mingguan sekitar 13%. Pasar khawatir karena Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai AS menerima mekanisme hukum yang diinginkan Teheran, sementara IRGC menegaskan ekspor minyak dan gas kawasan harus tersedia untuk semua pihak atau tidak untuk siapa pun.
Dampaknya ke market, konflik ini berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan menghidupkan kembali risiko inflasi global. Jika jalur Hormuz tetap terganggu, biaya energi bisa naik lebih jauh, menekan aset berisiko, dan membuat bank sentral semakin berhati-hati dalam menurunkan atau menahan suku bunga. Namun, sinyal pembebasan warga AS bisa menjadi celah diplomasi jika kedua pihak kembali membuka ruang negosiasi.(gn)
Sumber: Newsmaker.id