Bahrain, Kuwait, Jordan Jadi Target Sasaran Balasan Iran
Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap Iran menyusul jatuhnya helikopter Apache milik AS di dekat Selat Hormuz, Senin (8/6/2026).
Pukul 19.33 waktu tiimur AS, helikopter AH-64 Apache tersebut mengalami insiden dan kedua pilot berhasil diselamatkan, menurut Centcom.
Dalam balasannya, Iran menargetkan beberapa lokasi strategis di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menggunakan rudal dan drone. Sistem pertahanan udara Bahrain berhasil mencegat serangan, sementara laporan media Iran menyebut ledakan terdengar di beberapa lokasi di sekitar Selat Hormuz. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kesepakatan sementara antara AS dan Iran bisa tertunda.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons proporsional terhadap tindakan Iran dan menekankan pentingnya menjaga kehadiran militer di kawasan. Trump menyatakan kepada publik bahwa kesepakatan dengan Teheran masih mungkin dicapai dalam beberapa hari, meskipun bentrokan terbaru menimbulkan ketidakpastian.
Pihak Iran melalui media resmi menegaskan akan menanggapi serangan AS dan memperingatkan negara-negara regional untuk tidak memberikan akses bagi pasukan Amerika. Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, bahkan menegaskan bahwa Iran siap menempuh langkah lebih tegas jika kesepakatan dilanggar, sambil tetap menunjukkan preferensi diplomasi.
Insiden ini menggarisbawahi kerapuhan gencatan senjata yang sudah berlangsung dua bulan. Negosiasi yang dimediasi oleh pihak ketiga, termasuk Pakistan, terus berlangsung meski interaksi militer aktif berlangsung di lapangan. Ketegangan ini tetap menjadi penghambat signifikan bagi stabilitas kawasan dan kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski konflik berlanjut, pasar global tetap memantau perkembangan dengan cermat. Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap inflasi serta risiko geopolitik semakin membebani investor. Prospek perdamaian jangka pendek masih tipis, sementara AS dan Iran sama-sama menekankan niat untuk menjaga jalur diplomasi tetap terbuka, meski ancaman militer tetap mengintai.(yds)
Sumber: Newsmaker.id