Trump Batalkan Kunjungan ke Pakistan, Negosiasi AS-Iran Kembali Macet
Ketegangan geopolitik kembali menguat setelah Presiden Donald Trump membatalkan kunjungan delegasi Amerika Serikat ke Pakistan, langkah yang menegaskan mandeknya upaya negosiasi lanjutan antara AS dan Iran yang sebelumnya diharapkan membuka ruang de-eskalasi.
Delegasi AS yang semula dijadwalkan menggelar pertemuan lanjutan di Islamabad, termasuk utusan khusus dan pejabat tinggi, dilaporkan dibatalkan setelah Iran tidak menunjukkan kesiapan melanjutkan dialog langsung. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran disebut telah meninggalkan Pakistan tanpa kesepakatan, memperjelas kebuntuan diplomasi.
Situasi ini menyoroti jurang perbedaan yang masih lebar, terutama terkait program nuklir Iran dan tuntutan pencabutan sanksi. Dari sisi Washington, penundaan pertemuan mencerminkan penilaian bahwa posisi AS masih lebih kuat, sehingga memilih tidak melanjutkan pembicaraan tanpa kepastian hasil.
Mandeknya negosiasi juga memperbesar ketidakpastian global di tengah sensitivitas Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Absennya kemajuan diplomasi menjaga risiko gangguan rantai pasok energi tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Dalam kerangka transmisi pasar, kenaikan risiko geopolitik cenderung mendorong pergeseran ke mode risk-off, yang biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven sekaligus menaikkan premi risiko pada aset berisiko. Kanal energi menjadi kunci karena setiap peningkatan risiko di Hormuz dapat mempengaruhi ekspektasi inflasi dan proyeksi kebijakan.
Dari sisi implikasi pasar, emas berpotensi tetap mendapat dukungan sebagai lindung nilai ketidakpastian, sementara harga minyak cenderung bertahan kuat seiring kekhawatiran pasokan. Dolar AS juga berpeluang menguat di tengah permintaan aset aman, sementara pasar saham global berisiko tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian dan volatilitas. (gn)
Sumber: Newsmaker.id