Trump Dorong Voter ID untuk Buka DHS, Pasar Pantau Dampak Ekonomi
Presiden AS Donald Trump menegaskan Partai Republik memiliki momentum menjelang pemilu paruh waktu (midterm) November, meski lanskap politik dinilai berat bagi partai yang berkuasa. Dalam pidato pada jamuan penggalangan dana National Republican Congressional Committee di Washington, Trump menyebut GOP sebagai “partai yang sedang panas”.
Pernyataan itu muncul ketika anggota parlemen Republik menghadapi tekanan yang meningkat tentang arah legislasi dan peluang mempertahankan kendali Kongres untuk dua tahun terakhir masa jabatan Trump. Partai tersebut juga tercatat mengalami sejumlah kekalahan dalam pemilihan di luar jadwal sejak Trump menjabat, yang dikaitkan dengan kekecewaan pemilih atas biaya hidup dan kebijakan imigrasi.
Sorotan terbaru datang dari Florida, ketika Demokrat membalik kursi distrik legislatif negara bagian yang mencakup area Mar-a-Lago. Perkembangan ini membuat Demokrat semakin percaya diri untuk merebut kembali mayoritas DPR pada musim gugur, sementara jajak pendapat menunjukkan persepsi pemilih terhadap agenda ekonomi presiden melemah karena tekanan harga perumahan, bahan pangan, dan utilitas.
Risiko ekonomi juga bertambah dari perang Iran. Penutupan Selat Hormuz disebut mendorong harga minyak dan gas naik, yang memperbesar kekhawatiran inflasi dan menekan daya beli rumah tangga. Faktor energi ini berpotensi memperumit pesan ekonomi yang ingin diangkat Gedung Putih dalam kampanye.
Di sisi domestik, shutdown pemerintah sebagian memperburuk sentimen, dengan antrean panjang dan penundaan di bandara akibat kebuntuan pendanaan Department of Homeland Security. Pegawai Transportation Security Administration (TSA) dilaporkan belum dibayar selama berminggu-minggu, sementara Demokrat menahan pendanaan DHS untuk mendorong perubahan pada penegakan imigrasi. Trump mendesak anggota GOP mengaitkan pembukaan kembali DHS dengan legislasi voter ID, serta tetap berada di Washington jika diperlukan, seraya menilai pemilih akan menyalahkan Demokrat atas kekacauan.
Meski tim Gedung Putih menyatakan Trump akan lebih sering turun kampanye, aktivitasnya untuk menguatkan pesan ekonomi dinilai terbatas dan kerap melebar dari fokus keterjangkauan yang diinginkan penasihatnya. Trump juga mengakui tren historis yang tidak menguntungkan partai presiden pada midterm, meski tetap menyampaikan keyakinan publik akan berpihak pada GOP. (asd)
Sumber : Newsmaker.id