AS Kirim “Proposal 15 Poin” ke Iran, Trump Klaim Negosiasi Berjalan
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat dan Iran “sedang berada dalam negosiasi” dan mengisyaratkan Teheran ingin mencapai kesepakatan damai, meski Iran tetap membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington. Trump menyampaikan pernyataan itu, sekaligus menjelaskan bahwa ia memutuskan mundur dari ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran “karena kami sedang bernegosiasi.”
Trump menambahkan bahwa Iran “berbicara dengan kami, dan mereka berbicara masuk akal,” saat diminta menjelaskan lebih lanjut perubahan sikapnya. Ia juga menyebut sejumlah pejabat tinggi AS terlibat dalam proses negosiasi, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menlu Marco Rubio. Sebelumnya, Trump juga menyatakan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner melakukan pembicaraan dengan pihak Iran pada Minggu malam.
Di hari yang sama, The New York Times melaporkan, mengutip dua pejabat anonim, bahwa AS telah mengirimkan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang. Laporan tersebut menyebut rencana itu disampaikan melalui Pakistan, namun belum jelas seberapa luas dokumen itu telah beredar di kalangan pejabat Iran. Selain itu, belum ada kepastian apakah Israel—yang turut menyerang Iran bersama AS—akan mendukung rencana tersebut.
Trump sebelumnya menyatakan ada “sekitar 15 poin” kesepakatan antara AS dan Iran, dengan pencegahan Iran memiliki senjata nuklir menjadi prioritas utama. Dalam pernyataannya pada Selasa, Trump kembali menegaskan tujuan utama perang adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, bahkan mengklaim Iran telah sepakat “tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”
Di tengah perbedaan pesan antara AS dan Iran, berbagai laporan menyebut para pemimpin regional juga bergerak dalam diplomasi jalur belakang untuk mendorong akhir perang. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan negaranya bersedia memfasilitasi pembicaraan, dan Trump membagikan tangkapan layar pernyataan tersebut di Truth Social. Namun Gedung Putih menegaskan pembahasan diplomatik bersifat sensitif dan tidak akan dinegosiasikan melalui media.
Meski narasi diplomasi menguat, operasi militer AS disebut tetap berjalan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Operasi “Epic Fury” terus berlangsung guna mencapai tujuan militer yang ditetapkan presiden dan Pentagon. Pemerintahan Trump juga dilaporkan belum mundur dari rencana mengajukan paket pendanaan tambahan terkait perang ke Kongres yang nilainya bisa mencapai $200 miliar.
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan Pentagon menyiapkan rencana pengerahan sekitar 3.000 personel dari Divisi Lintas Udara 82nd Airborne ke Timur Tengah. Gedung Putih menegaskan semua pengumuman terkait pengerahan pasukan akan disampaikan oleh Departemen Perang, serta menekankan bahwa Trump “selalu memiliki seluruh opsi militer.”
Inti Newsmaker: Washington mengirim sinyal kuat bahwa jalur diplomasi sedang didorong melalui proposal 15 poin, namun di saat yang sama tetap menjaga tekanan militer dan kesiapan eskalasi. Pasar dan kawasan kini menunggu dua hal: apakah Iran merespons rencana itu secara nyata, dan apakah langkah diplomatik dapat berjalan paralel dengan operasi militer tanpa memicu eskalasi baru.(yds)
Sumber: Newsmaker.id