Hormuz Makin Panas, “Talks” AS–Iran Masih Simpang Siur
Iran dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda mereda pada hari ke-25 perang, mengguncang pasar global meski pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberi sinyal ada momentum menuju pembicaraan formal untuk mengakhiri konflik. Ketidakpastian ini membuat investor kembali menimbang risiko eskalasi yang bisa mengganggu pasokan energi dan memicu gelombang inflasi baru.
Di lapangan, Iran memutar balik sebuah kapal kontainer dari Selat Hormuz, sementara Israel terus melancarkan serangan ke Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan kampanye militer akan berjalan “dengan intensitas penuh,” menandakan ketegangan belum mendekati titik jeda.
Masih belum jelas apakah dan bagaimana AS benar-benar akan melakukan pembicaraan dengan Iran seperti yang disinggung Trump pada Senin. Meski Trump mengklaim menahan serangan AS ke situs energi dan memberi Iran waktu lima hari untuk mencapai kesepakatan, laporan lain menyebut Marinir AS sedang menuju kawasan—menambah spekulasi bahwa opsi operasi darat tetap dipersiapkan.
Upaya mediasi juga bermunculan. Pakistan disebut mendorong peran mediator, dan Trump dilaporkan berbicara dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir terkait konflik. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menulis bahwa Pakistan akan “merasa terhormat” menjadi mediator—unggahan yang kemudian dibagikan Trump, tanpa konfirmasi apakah tawaran itu diterima.
Para pemimpin dunia ikut berlomba membangun pengaruh. Perdana Menteri India Narendra Modi menyatakan mendorong perdamaian dalam panggilan telepon dengan Trump, termasuk membahas Selat Hormuz—jalur penting bagi impor energi India. Di sisi lain, laporan New York Times menyebut Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mendorong Trump melanjutkan perang untuk “membentuk ulang” kawasan, meski Gedung Putih menolak berkomentar soal diskusi privat presiden.
Harga energi kembali menjadi pusat perhatian. Brent diperdagangkan lagi di atas $100 per barel setelah jatuh 11% pada Senin, sementara pelayaran lewat Hormuz tetap terhambat. Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab disebut bisa bergabung mendukung kampanye AS–Israel jika Iran menyerang infrastruktur vital mereka—ambang yang tinggi, tetapi cukup untuk memperbesar ketakutan pasar.
Risiko gangguan distribusi energi juga terlihat meningkat. Iran dilaporkan menghentikan ekspor gas alam ke Turki setelah serangan Israel terhadap ladang gas raksasa South Pars pekan lalu—menggarisbawahi betapa cepat konflik merembet dari keamanan ke jalur pasokan.
Pernyataan Trump yang menunda serangan ke infrastruktur energi Iran—dengan alasan “pembicaraan produktif”—justru memicu kebingungan karena banyak pejabat Iran membantah diplomasi di balik layar itu. Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan meminta orang kepercayaannya, Ron Dermer, memantau setiap potensi negosiasi AS–Iran agar kepentingan Israel tetap terjaga.
Sikap sekutu AS di Teluk juga mengeras akibat serangan berulang ke wilayah mereka. Saudi disebut memberi tahu AS bahwa mereka siap menyerang Iran bila fasilitas listrik dan air mereka menjadi target. Menlu Faisal bin Farhan Al Saud sebelumnya menegaskan bahwa “kesabaran” kerajaan tidak tak terbatas.
Trump mengatakan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner berdiskusi dengan “orang penting” di Iran dan menilai Teheran ingin “membuat kesepakatan,” sambil menyebut Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei tidak terlibat. Media Axios menyebut nama Mohammad-Bagher Ghalibaf, tetapi Ketua Parlemen Iran itu membantah negosiasi berlangsung. Pernyataan yang saling bertolak belakang dari pejabat Iran dan media negara mempertebal ketidakjelasan status pembicaraan.
IRNA mengutip juru bicara Kemenlu Iran Esmail Baghaei yang menyatakan Teheran menerima permintaan AS lewat mediator untuk pembicaraan mengakhiri perang, sambil memperingatkan konsekuensi “berat” jika ada agresi terhadap infrastruktur vital Iran. Menlu Iran Abbas Araghchi juga disebut melakukan komunikasi dengan sejumlah negara—mulai dari Turki, Oman, Pakistan, Mesir, Rusia hingga Korea Selatan—sebagai bagian dari manuver diplomatik.
Namun dari sisi politik domestik Iran, sinyalnya keras. Wakil Ketua Parlemen menutup peluang negosiasi dengan Trump, menyebut Iran tidak akan berunding dengan pihak yang dianggap tidak bisa dipercaya. Iran juga menunjuk veteran garis keras IRGC sebagai pemimpin keamanan nasional baru—sebuah langkah yang berpotensi membuat jalur diplomasi lebih kaku karena figur tersebut minim pengalaman diplomatik.
Indikasi awal menunjukkan negosiasi akan berat dan tidak ada jaminan kesepakatan bisa dicapai. Iran sebelumnya menuntut reparasi dan jaminan AS–Israel tidak menyerang lagi—tuntutan yang kecil kemungkinan diterima Trump dan Netanyahu. Sementara itu, konflik telah menelan lebih dari 4.350 korban jiwa, dengan sekitar tiga perempat korban berada di Iran, dan lebih dari 1.000 korban di Lebanon dalam perang Israel melawan Hezbollah.
Lalu lintas tanker di Selat Hormuz—jalur bagi sekitar seperlima aliran minyak dan LNG dunia—nyaris berhenti. Hanya segelintir kapal yang melintas sejak konflik dimulai, sering kali setelah “engagement” tertentu dengan Iran. Teheran juga mulai membebankan biaya transit pada sebagian kapal komersial, menegaskan kontrol atas jalur energi paling penting di dunia.
AS dan Israel menyatakan tujuan mereka mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Trump bahkan menyiratkan AS akan mengambil stok uranium Iran dan mengklaim kedua pihak “sudah sejalan” soal syarat-syaratnya. Iran sejak lama membantah mengejar senjata nuklir, meski akses inspeksi PBB disebut sempat dibatasi setelah rangkaian serangan sebelumnya. Trump juga melontarkan ide bahwa AS dan Iran bisa “mengelola bersama” Selat Hormuz jika tercapai kesepakatan—sebuah gagasan yang masih jauh dari pasti di tengah medan tempur yang tetap panas. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id