Trump Ultimatum Selat Hormuz, Iran Balas Ancaman Serang Infrastruktur Teluk
Presiden AS onald Trump pada Sabtu mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran, mengancam akan “menghancurkan” (obliterate) pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dalam 48 jam. Pernyataan itu langsung meningkatkan ketegangan geopolitik dan memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi global.
Iran merespons dengan memperingatkan akan menargetkan infrastruktur AS di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi dan desalinasi, jika Washington benar-benar menjalankan ancamannya. Ancaman ini memperluas risiko dari perang militer ke potensi serangan terhadap fasilitas sipil dan ekonomi vital.
Ketua Parlemen Iran juga melontarkan peringatan keras, menyatakan entitas keuangan yang mendukung anggaran militer AS dapat dianggap sebagai target sah. Ia bahkan menuding pembeli obligasi pemerintah AS (US Treasuries) sama artinya dengan “membeli serangan” terhadap kantor pusat dan aset mereka—membawa eskalasi retorika ke ranah finansial dan menambah ketidakpastian bagi pasar global.
Pernyataan saling ancam itu muncul setelah Iran dilaporkan menarget fasilitas nuklir di Israel, menyusul laporan serangan AS–Israel terhadap kompleks pengayaan nuklir Iran. Militer Israel mengatakan beberapa misil menghantam kota selatan Dimona dan Arad setelah sistem pertahanan udara gagal mencegatnya, memperlihatkan meningkatnya risiko keamanan bahkan di titik-titik strategis.
Eskalasi terbaru ini memunculkan kekhawatiran di kalangan eksekutif korporasi bahwa konflik dapat berlangsung berbulan-bulan, memperpanjang periode ketidakpastian bagi ekonomi global. Meski harga minyak sempat stabil pada Senin, sejumlah analis memperingatkan bahwa eskalasi lanjutan—terutama serangan ke infrastruktur kritis dan fasilitas energi di Timur Tengah—dapat mendorong harga kembali melonjak.
Di pasar keuangan, futures saham AS relatif stabil pada Senin, namun tiga indeks utama Wall Street ditutup melemah pada pekan sebelumnya. S&P 500 turun lebih dari 1,5% dan kembali berada di bawah 200-day moving average untuk pertama kalinya sejak Mei. Dow mencatat penurunan empat pekan beruntun pertama sejak 2023, sementara Nasdaq juga turun sekitar 2% sepanjang pekan.
Inti Newsmaker: ultimatum Hormuz dan ancaman balasan Iran meningkatkan risiko “shock energi + risk-off” kembali mendominasi. Selama jalur Hormuz belum benar-benar aman dan retorika serangan infrastruktur terus naik, pasar akan tetap rapuh—terutama pada minyak, dolar, dan ekuitas global.(yds)
Sumber: newsmaker.id