Upaya Trump Buka Hormuz Tersendat, Sekutu Ragukan Efektivitas Pengawalan
Presiden AS Donald Trump mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz untuk meredakan krisis energi global, tetapi langkah itu dinilai sulit tercapai tanpa gencatan senjata dalam perang melawan Iran. Serangan sporadis terhadap kapal dan ancaman ranjau membuat lalu lintas di jalur vital tersebut nyaris berhenti, sementara Iran secara efektif memegang kendali akses atas selat yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Trump sempat mendesak sekutu membentuk koalisi angkatan laut multinasional untuk mengawal kapal komersial. Namun mitra Eropa dan Asia ragu efektivitas tambahan kapal perang terhadap kemampuan Iran mengancam pelayaran melalui ranjau, kapal cepat, kapal selam, dan drone. Sejumlah pejabat menilai kehadiran tambahan hanya memberi dampak marginal di luar postur AS yang sudah besar, dan tetap belum cukup untuk memulihkan perdagangan normal.
Skeptisisme itu diperkuat pengalaman di Laut Merah, ketika gangguan oleh Houthi bertahan meski ada operasi militer. Inggris dan Prancis menyatakan tidak ingin terseret langsung: PM Inggris Keir Starmer menilai pembukaan Hormuz “bukan hal yang mudah,” sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis tidak akan ikut operasi saat ini, meski terbuka pada sistem pengawalan setelah situasi mereda. Sejumlah analis militer juga menilai solusi pengawalan berisiko tanpa jeda konflik, menegaskan isu Hormuz lebih banyak bergantung pada keputusan politik dan de-eskalasi ketimbang penambahan kapal perang.(alg)
Sumber: Newsmaker.id