• Tue, Mar 3, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

23 February 2026 22:45  |

Trump Ancam Tarif Lebih Tinggi Usai Putusan MA

Presiden AS Donald Trump kembali menaikkan tensi dagang dengan mengancam akan mengenakan tarif yang “jauh lebih tinggi” kepada negara-negara yang dianggap mencoba mengutak-atik kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat. Ancaman itu muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian landasan kebijakan tarif luas yang sebelumnya ia dorong, sehingga ruang geraknya untuk menetapkan bea masuk secara sepihak dinilai makin terbatas.

Dalam unggahan di media sosial pada Senin, Trump menegaskan negara mana pun yang “bermain-main” dengan putusan pengadilan tersebut—terutama yang menurutnya telah “menipu” AS selama bertahun-tahun—akan menghadapi tarif yang lebih berat daripada yang baru saja disepakati. Pernyataan ini memperlihatkan upaya pemerintahannya menjaga kesepakatan dagang yang sudah dinegosiasikan tetap berjalan, meski putusan pengadilan melemahkan kemampuan Trump memanfaatkan kewenangan darurat untuk memasang tarif.

Di Eropa, respons cepat datang dari Uni Eropa yang membekukan proses ratifikasi perjanjian dengan pemerintahan Trump. Sejumlah pejabat Parlemen Eropa menyebut mereka ingin kejelasan lebih dulu terkait arah program tarif Trump sebelum melanjutkan proses politik di internal blok tersebut. Sementara itu, mitra utama lain seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris juga termasuk pihak yang telah memiliki atau menegosiasikan pakta dagang dengan AS.

Trump juga menegaskan dirinya tidak perlu kembali ke Kongres untuk meminta persetujuan tarif. Ia sebelumnya mengumumkan tarif global sementara 10% selama maksimal 150 hari berdasarkan Section 122 Trade Act 1974, lalu menaikkannya menjadi 15%. Kebijakan itu diposisikan sebagai “jembatan” sambil pemerintah menyiapkan bea masuk yang lebih permanen menggunakan jalur lain, termasuk Section 301 dan Section 232.

Namun, sejak putusan Mahkamah Agung keluar pada Jumat, pemerintah belum terlihat memulai rangkaian penyelidikan baru yang biasanya menjadi prasyarat untuk menerapkan tarif jangka panjang lewat kewenangan tersebut. Kondisi ini membuat pasar melihat arah kebijakan dagang AS masih sangat dinamis, dengan risiko perubahan mendadak yang tetap tinggi. (Arl)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
GLOBAL ECONOMY

Kanada Akan Mengumumkan Tarif Balasan Senilai C$29,8 Miliar ...

Kanada akan mengumumkan tarif balasan senilai C$29,8 miliar terhadap Amerika Serikat pada hari Rabu (12/3) sebagai tanggapan ...

12 March 2025 18:54
GLOBAL ECONOMY

Tiongkok Tegaskan AS Harus Membatalkan Tarif Sebelum Pembica...

Beijing menegaskan kembali seruannya kepada AS untuk membatalkan tarif sepihak terhadap Tiongkok, menggarisbawahi kebuntuan a...

8 May 2025 16:16
BIAS23.com NM23 Ai