Trump Perketat Asia & Rusia Sekaligus
India menghadapi tekanan baru dari Presiden AS Donald Trump, yang memberi sinyal akan memberlakukan tarif tinggi sebesar 20–25% atas ekspor India, meskipun sebelumnya menyebut negara itu sebagai "sahabat baik." Pernyataan ini muncul tak lama setelah Menteri Perdagangan India optimistis akan segera tercapai kesepakatan dengan AS. Namun, peluang itu tampaknya memudar di tengah keengganan historis India untuk membuka pasar domestiknya.
Kondisi ini mencemaskan negara-negara Asia lain seperti Korea Selatan dan Taiwan, yang juga tengah menanti kepastian perjanjian dagang dengan AS. Perdana Menteri India Narendra Modi—yang sempat dielu-elukan dalam acara “Howdy, Modi!”—kini dihadapkan pada kenyataan bahwa kepentingan geopolitik tidak menjamin kelonggaran tarif dari Trump. Taiwan bahkan menghadapi ancaman tarif hingga 32% dengan tenggat waktu negosiasi yang semakin dekat.
Selain Asia, situasi global semakin tegang. Trump memberi Rusia batas waktu 10 hari, hingga 8 Agustus, untuk menghentikan perang di Ukraina atau menghadapi sanksi sekunder baru yang menyasar pembeli ekspor Rusia, terutama di sektor energi. Namun, Kremlin menolak tuntutan ini, memunculkan kekhawatiran akan dampak besar terhadap pasar global dan keseimbangan kekuatan internasional.
Sementara itu, ketegangan regional juga meningkat. Thailand menuduh Kamboja melanggar gencatan senjata, dan pengamat internasional dikirim untuk memantau situasi. Di sisi lain, Somaliland secara terbuka menawarkan pangkalan militer bagi AS di Laut Merah, berharap dukungan geopolitik dapat membantu memperkuat klaimnya sebagai negara berdaulat. Ini menambah dinamika baru di kawasan sensitif yang juga menjadi target serangan kelompok Houthi.
Dalam perkembangan lain, dunia juga menghadapi tekanan domestik dan sosial. Dari krisis kemanusiaan di Gaza yang memburuk, hingga rencana Inggris mengakui Palestina jika perang tidak dihentikan. Australia berencana melarang YouTube bagi anak-anak di bawah 16 tahun, dan Presiden Pantai Gading, Alassane Ouattara (83), akan mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan keempat pada Oktober. Semua ini menunjukkan dunia berada dalam titik ketegangan tinggi di berbagai lini.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id