Trump: AS dan Iran Akan Berunding, Perang Timur Tengah Selesai?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa AS dan Iran akan mengadakan perundingan minggu depan, menyusul gencatan senjata antara Israel dan Iran yang memasuki hari kedua. Dalam konferensi pers di sela-sela KTT NATO di Den Haag, Trump menyebut bahwa konflik Timur Tengah "pada dasarnya telah berakhir" setelah serangan udara AS menghancurkan situs-situs nuklir utama Iran seperti Natanz, Isfahan, dan Fordow. Meski begitu, ia juga memperingatkan bahwa konflik bisa saja kembali memanas sewaktu-waktu.
Trump meremehkan perlunya perjanjian diplomatik baru mengenai program nuklir Iran, dengan alasan bahwa serangan AS telah menghancurkan fasilitas utama yang menyimpan materi nuklir. Pernyataan tersebut berbeda dengan penilaian intelijen AS yang menilai program Iran hanya mundur dalam hitungan bulan. Di sisi lain, Iran melalui misi PBB-nya menyatakan siap untuk kembali ke jalur diplomasi dan menolak logika perang. Sebelumnya, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, telah memimpin lima putaran pembicaraan dengan Iran sebelum serangan Israel terjadi pada 13 Juni lalu.
Situasi di lapangan masih belum sepenuhnya jelas. Iran mengkritik Badan Energi Atom Internasional (IAEA) karena dinilai gagal mengutuk serangan militer terhadap fasilitas nuklir mereka. Parlemen Iran bahkan telah menyetujui undang-undang untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA hingga ada jaminan keamanan di lokasi-lokasi nuklir. Sementara itu, IAEA mendesak agar inspeksi segera dilanjutkan, mengingat keberadaan stok uranium yang diperkaya hingga 60% kini tidak diketahui setelah serangan udara.
Trump mengklaim bahwa serangan AS berhasil "mengubur" bahan nuklir Iran di bawah granit, beton, dan baja, sehingga menurunkan risiko senjata atom dari Teheran. Namun, ia enggan mengungkapkan sumber informasi intelijen tersebut secara rinci. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengakui adanya kerusakan besar di fasilitas nuklir, tetapi belum memberikan penjelasan teknis. Meski perang belum benar-benar berakhir, sinyal diplomasi yang muncul membuka harapan baru bagi stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Sumber: (ayu-newsmaker)