Dunia Makin Ngeri: NATO Terguncang, Jalur Damai Ukraina Gagal Total
Ketegangan singkat soal Greenland tiba-tiba bikin suasana di kubu Barat jadi aneh. Dalam beberapa hari, isu yang awalnya terdengar “jauh” itu berubah jadi ujian kepercayaan: seberapa solid sebenarnya hubungan Amerika Serikat dan NATO, kalau ada perbedaan sikap yang mendadak muncul di depan publik.
Kronologinya dimulai saat Washington kembali menekan agenda Greenland—dengan gaya komunikasi yang keras dan penuh tekanan. Banyak pihak Eropa menangkapnya sebagai sinyal bahwa keputusan strategis bisa berubah cepat, dan sekutu dipaksa ikut irama. Di titik ini, yang terganggu bukan cuma isu Greenland, tapi rasa aman politik di dalam aliansi.
Reaksi Eropa muncul cepat. Sejumlah pemimpin menyuarakan sikap tegas, tapi juga berusaha meredam eskalasi agar tidak melebar menjadi konflik terbuka. Ketegangan ini tidak berlangsung lama, namun cukup untuk menimbulkan satu pertanyaan besar: kalau isu Greenland saja bisa memicu gesekan, bagaimana kalau nanti terjadi krisis yang lebih berat?
Situasi lalu sedikit mendingin setelah muncul sinyal “pelunakan” nada dan pembicaraan untuk mencari format kerja sama atau pengaturan baru. Tapi walau tensinya mereda, efek psikologisnya sudah terlanjur ada: kepercayaan itu gampang goyah, dan butuh waktu untuk dipulihkan.
Di saat yang hampir bersamaan, perhatian global juga tersedot ke pembicaraan Ukraina–Rusia yang dimediasi AS di Abu Dhabi. Pada hari Sabtu, perundingan memasuki hari kedua dan ditutup tanpa kesepakatan. Artinya, jalur diplomasi masih berjalan, tapi belum menemukan titik temu yang bisa dikunci jadi hasil nyata.
Tidak adanya kesepakatan menunjukkan masalah inti masih berat: soal keamanan, wilayah, dan format jaminan yang bisa diterima kedua pihak. Di ruang negosiasi, ini biasanya berarti pembicaraan akan lanjut—tapi pasar dan publik melihatnya sebagai sinyal bahwa “damai cepat” masih jauh.
Gambaran besarnya: dua kejadian ini sama-sama menambah lapisan ketidakpastian. Greenland membuat NATO terlihat mudah terganggu oleh politik, sementara Abu Dhabi menunjukkan perang Ukraina–Rusia belum punya pintu keluar yang jelas. Dan ketika ketidakpastian menumpuk, dunia cenderung masuk mode waspada—dengan semua efek ikutannya ke ekonomi, pasar, dan geopolitik.
Dampaknya ke harga emas biasanya positif karena dua isu ini sama-sama menambah rasa “nggak pasti” di pasar: ketegangan Greenland bikin investor ragu soal kekompakan Barat/NATO, sementara pembicaraan Ukraina–Rusia yang buntu memperpanjang risiko konflik. Kombinasi itu mendorong arus safe-haven ke emas (sebagai pelindung nilai saat krisis), sehingga emas cenderung tetap kuat atau mudah naik saat muncul headline baru—meski tetap bisa ada koreksi sesaat kalau tensi tiba-tiba mereda atau pasar ambil untung.(asd)
Sumber : Newsmaker.id