CPI Inggris Tetap 3%, Shock Energi Iran Uji BoE
Inflasi Inggris bertahan di 3% pada Februari, level terendah 11 bulan, sebelum perang Iran mendorong biaya bensin berbalik naik dan mengancam guncangan baru bagi keuangan rumah tangga. Office for National Statistics (ONS) melaporkan laju CPI tidak berubah dan sesuai ekspektasi, dengan biaya bahan bakar kendaraan menjadi salah satu penahan inflasi pada Februari—faktor yang cepat berbalik setelah harga minyak naik ke di atas US$100/barel. Pound tetap tertekan dan turun sekitar 0,25% ke US$1,3376.
Namun, data Februari kini dipandang sebagai baseline sebelum shock energi masuk ke rilis berikutnya. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi bisa sekitar 1 poin persentase lebih tinggi pada akhir tahun akibat dampak perang pada pasar energi, memunculkan kembali kekhawatiran “feedback loop” harga. Situasi ini menghidupkan memori 2022 ketika BoE kesulitan meredam shock energi pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Pekan lalu, MPC menegaskan “siap bertindak”, bahkan salah satu pembuat kebijakan yang biasanya dovish memperingatkan kenaikan suku bunga bisa terjadi jika lonjakan energi berkepanjangan.
Pasar pun berbalik: trader kini bertaruh BoE akan menaikkan suku bunga setidaknya dua kali tahun ini, berlawanan dengan ekspektasi pemangkasan sebelum perang ketika inflasi diperkirakan turun ke target 2% pada musim semi. Di sisi politik, Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan pemerintah menyiapkan langkah untuk membantu ekonomi dan sektor yang paling terdampak perang, sementara Menteri Keuangan Rachel Reeves disebut mempertimbangkan pengetatan pengawasan terhadap perusahaan yang memanfaatkan perang untuk menaikkan harga secara tidak wajar, karena risiko krisis biaya hidup berulang dapat menekan dukungan publik terhadap pemerintahan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id