• Wed, Mar 25, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

25 March 2026 08:18  |

Inflasi Australia Masih Tinggi Jelang Guncangan Minyak Iran, RBA Hadapi Risiko Putaran Kedua

Inflasi Australia masih berada di level tinggi pada Februari, bahkan sebelum perang Iran mengguncang pasokan energi Timur Tengah dan mendorong lonjakan harga bensin. Data ini memperkuat sinyal bahwa tekanan harga di ekonomi belum sepenuhnya mereda, sehingga guncangan energi berisiko datang saat inflasi dasar masih “lengket”.

Ukuran inflasi inti yang diawasi ketat, trimmed mean, naik 3,3% (yoy)—sedikit di bawah perkiraan 3,4%—menurut Australian Bureau of Statistics. Secara bulanan, indikator inti naik 0,2%, melambat dari 0,3% pada Januari. Target RBA berada di tengah rentang 2–3%, sehingga level ini masih di atas sasaran.

Reaksi pasar relatif terbatas karena angka tersebut terjadi sebelum dampak perang masuk ke harga domestik. Dolar Australia sempat melemah lalu pulih di sekitar US$0,70, sementara yield obligasi tenor 3 tahun turun hingga 13 bps. Pelaku pasar menurunkan peluang kenaikan suku bunga pada Mei menjadi sekitar 54%, dari sekitar 60% sebelum rilis.

RBA dua pekan lalu menaikkan suku bunga untuk kedua kali beruntun ke 4,1%, menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dan risiko “second-round effects” dari energi menjadi perhatian. Di saat yang sama, pasar uang masih menilai peluang dua kenaikan lagi tahun ini tetap terbuka, terutama jika guncangan energi mendorong inflasi kembali naik.

Konflik Iran telah melempar pasar energi ke fase volatil, dengan risiko pengetatan pasokan melalui Selat Hormuz. Goldman Sachs memperkirakan gangguan besar hingga pertengahan bulan depan dapat membuat Brent rata-rata sekitar US$105 pada Maret dan US$115 pada April sebelum turun menuju US$80 pada kuartal IV. Di Australia, data aktivitas juga mulai melemah: PMI jasa berbalik ke kontraksi pada Maret dan sentimen konsumen jatuh ke rekor rendah akibat kombinasi minyak yang naik dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Komposisi inflasi Februari menunjukkan CPI utama naik 3,7% (yoy), sedikit lebih rendah dari perkiraan 3,8%. Kontributor terbesar adalah perumahan (+7,2%), disusul makanan/minuman non-alkohol serta rekreasi dan budaya. Biaya listrik naik 37% dalam 12 bulan hingga Februari, sementara harga BBM kendaraan masih turun 3,4% sebelum eskalasi Timur Tengah—menandakan tekanan inflasi energi berpotensi meningkat pada rilis berikutnya. (asd)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
ECONOMY

Tingkat Pengangguran Australia Naik Menjadi 4,1%

Tingkat Pengangguran Australia naik menjadi 4,1% pada bulan Januari dari 4,0% pada bulan Desember, menurut data resmi yang di...

20 February 2025 07:46
GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
BIAS23.com NM23 Ai