Penguatan Data GDP AS Membuat Arah Suku Bunga Jadi Tanda Tanya
Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis tadi malam memberi sinyal campuran bagi pasar. Revisi Produk Domestik Bruto (GDP) kuartal II menunjukkan pertumbuhan 3,8% (annualized), lebih tinggi dari estimasi sebelumnya, menandakan ekonomi AS masih memiliki momentum yang kuat.
Namun di sisi lain, pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Tingkat pengangguran naik ke kisaran 4,3%, sementara rata-rata penciptaan lapangan kerja melambat. Meski klaim pengangguran mingguan terbaru turun ke 218.000, tren jangka menengah tetap menunjukkan pendinginan pasar kerja.
The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi PCE yang direvisi sedikit lebih tinggi membuat Federal Reserve diperkirakan tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga pada pertemuan mendatang. Para analis menilai The Fed akan tetap berhati-hati dan menunggu data lanjutan, terutama laporan tenaga kerja dan inflasi bulan depan.
“Pertumbuhan GDP yang solid mengurangi urgensi pemotongan suku bunga segera. Namun, jika pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut, peluang pemotongan tetap terbuka,” ujar seorang analis makro ekonomi kepada Reuters.
Dampak ke Pasar
Imbal hasil obligasi AS cenderung stabil, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa langkah pemotongan suku bunga kemungkinan baru dilakukan secara bertahap. Harga emas sempat bergerak hati-hati karena prospek kebijakan moneter yang masih ketat cenderung menahan sentimen bullish jangka pendek.
Data Berikutnya Jadi Penentu
Pasar kini menanti rilis data inflasi terbaru (PCE) serta laporan tenaga kerja (Nonfarm Payrolls) pada 3 Oktober. Jika angka tenaga kerja turun tajam dan inflasi melandai, peluang pemangkasan suku bunga tambahan bisa kembali menguat, yang berpotensi mendukung harga emas dan aset berisiko.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id