Pasar Siaga Skenario US$150–US$200, Hormuz Jadi Kunci
Harga minyak naik di Asia seiring pasar menilai sinyal yang saling bertentangan dari AS dan Iran soal upaya mengakhiri perang yang membuat Selat Hormuz nyaris tertutup. Brent kembali di atas US$103/barel setelah turun lebih dari 2% pada Rabu, sementara WTI berada di sekitar US$91. Gedung Putih bersikukuh pembicaraan damai berjalan, tetapi Teheran menolak pendekatan AS dan menyodorkan syaratnya sendiri, termasuk kontrol kedaulatan atas jalur pelayaran strategis tersebut. Risiko tambahan muncul setelah parlemen Iran menyiapkan rancangan aturan untuk memungut biaya sebagai imbalan “keamanan” kapal yang melintas, yang disebut akan difinalisasi pekan depan.
Konflik ini mendorong Brent menuju kenaikan bulanan terbesar sejak 1990 dan menekan ekonomi global—terutama Asia—karena jutaan barel pasokan harian hilang serta harga produk (diesel, avtur) melonjak lebih cepat dari minyak mentah. Investor juga memperhitungkan skenario harga ekstrem: BlackRock memperingatkan pasar bisa masih melihat minyak menuju US$150 meski perang diumumkan selesai, karena normalisasi rantai pasok butuh waktu. Di lapangan, lalu lintas Hormuz masih “setetes”, dengan kapal yang meminta transit di bawah perlindungan Iran diminta menyerahkan data kru, muatan, dan rute untuk persetujuan IRGC. Pemerintah Asia menyiapkan skenario terburuk—Filipina menetapkan status darurat dan Korea Selatan masuk mode krisis—sementara pejabat AS juga dikabarkan mengkaji dampak jika minyak melonjak hingga US$200/barel.
Harga minyak pada saat analisis ini di rilis berada pada level : $ 103.23
- Beli jika harga bergerak di bawah $ 98.23
- Jual jika harga bergerak di bawah $ 108.23
Resistensi 2: $ 103.85
Resistensi 1: $ 103.54
Support 1: $ 102.86
Support 2: $ 102.49
Perhatian:
Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.
Sumber: Newsmaker.id