Minyak Masih Mahal, Koreksi Sementara Tak Hapus Risiko Inflasi Energi
Brent turun ke sekitar US$103 setelah sempat melonjak ke US$113 dan menyentuh low kemarin di US$100, mencerminkan pasar yang mulai mengurangi posisi setelah lonjakan cepat. Penyebab utamanya adalah profit-taking setelah spike headline-driven, ditambah pasar mulai “menghitung ulang” apakah eskalasi terbaru benar-benar sudah berubah menjadi gangguan pasokan fisik (produksi/ekspor/pengapalan), atau masih dominan risiko yang sifatnya sementara.
Koreksi juga terjadi karena fokus investor bergeser dari “berita serangan” ke indikator yang lebih konkret: arus tanker, kelancaran ekspor, dan operasional fasilitas energi. Jika tidak ada bukti pemangkasan suplai yang bertahan (misalnya ekspor tetap jalan atau rute pengapalan masih bisa beroperasi), premi risiko cenderung menyusut dari puncak dan Brent turun dari 113 ke area 103. Namun level 103 masih tinggi, artinya pasar tetap menempelkan premi risiko hanya saja tidak setinggi saat panic bid kemarin.
Dampak ke ekonomi global terutama lewat kanal inflasi dan biaya. Minyak yang bertahan tinggi meningkatkan risiko inflasi energi, mendorong biaya transportasi dan logistik, serta menekan daya beli konsumen. Ini bisa memperumit jalur kebijakan bank sentral: jika inflasi energi bertahan, ruang pemangkasan suku bunga makin sempit, sementara pertumbuhan bisa melambat karena biaya meningkat. Untuk negara importir energi (Eropa, banyak Asia), risikonya lebih besar karena tekanan biaya impor dan neraca berjalan.
Harga minyak pada saat analisis ini di rilis berada pada level : $ 103.49
- Beli jika harga bergerak di bawah $ 101.91
- Jual jika harga bergerak di bawah $ 104.40
Resistensi 2: $ 107.82
Resistensi 1: $ 105.33
Support 1: $ 100.35
Support 2: $ 97.86
Perhatian : Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.
Sumber: Newsmaker.id