
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS bertahan di sekitar level 100,3 pada perdagangan Kamis (17/9), setelah melonjak tajam pada sesi sebelumnya. Penguatan tersebut membawa dolar ke level tertinggi dalam beberapa pekan setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 dan memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan masih dapat berlanjut tahun ini. Data pasar menunjukkan Dollar Index berada di sekitar 100,30 setelah sebelumnya menembus area psikologis 100.
Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan mencerminkan fokus The Fed dalam mengendalikan tekanan inflasi yang masih bertahan di atas target. Kenaikan ini sekaligus menjadi langkah pengetatan pertama bank sentral AS dalam lebih dari tiga tahun.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan. Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan sebagian besar pejabat memperkirakan setidaknya satu kenaikan lagi sebelum akhir tahun. Sikap hawkish tersebut mendorong yield Treasury dan memperkuat daya tarik dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga hingga 1% atau bahkan lebih rendah. Meski berbeda pandangan dengan kebijakan bank sentral, Trump tidak secara langsung menyerang Warsh dan sebelumnya menyatakan masih memiliki kepercayaan terhadap Ketua The Fed tersebut. Perbedaan arah antara Gedung Putih dan bank sentral tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari luar Amerika Serikat, perhatian pasar kini beralih ke keputusan Bank of England dan Bank of Japan. BoE diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September, meskipun kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi Inggris. Sementara itu, pasar juga menantikan keputusan BoJ pada Jumat, di tengah ekspektasi bahwa bank sentral Jepang dapat melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Analisis Newsmaker: Dolar AS masih memiliki dukungan kuat selama pasar mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dari The Fed. Bertahannya DXY di atas level psikologis 100 menunjukkan momentum bullish masih terjaga dalam jangka pendek. Namun, arah berikutnya akan bergantung pada data ekonomi AS serta kebijakan bank sentral global. Jika inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan nada hawkish, dolar berpeluang tetap kuat, sementara sinyal pengetatan dari BoE atau BoJ dapat membatasi penguatannya terhadap poundsterling dan yen. (asd)