
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak merosot pada perdagangan Kamis (17/9), turun sekitar 3% ke level terendah dalam sepekan setelah laporan tambahan pasokan minyak Arab Saudi melalui Oman meredakan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi. Harga Brent turun 3,64% ke sekitar US$101,98 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,93% ke US$99,43 per barel. Meski terkoreksi, harga minyak masih bertahan di atas US$100 karena risiko konflik Timur Tengah yang belum mereda.
Penurunan harga minyak terjadi setelah pasar mendapat sinyal bahwa aliran minyak Saudi dapat segera kembali stabil. Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan pengiriman minyak mentah kepada pembeli Asia melalui metode transfer kapal ke kapal di sekitar pelabuhan Sohar, Oman. Langkah tersebut membantu mengurangi dampak gangguan akibat kerusakan jalur pipa East-West yang sebelumnya meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan global.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam sekitar empat bulan setelah laporan penghentian sementara pengiriman dari terminal ekspor Yanbu di Laut Merah. Gangguan tersebut terjadi setelah serangan terhadap infrastruktur pipa East-West Saudi, yang menjadi salah satu jalur penting untuk mengalirkan minyak mentah ke pasar global.
Meskipun harga minyak mulai terkoreksi, risiko pasokan masih menjadi perhatian utama pasar. Kerusakan pada dua stasiun pompa yang melayani jalur pipa East-West membuat waktu pemulihan masih belum sepenuhnya jelas. Gangguan berkepanjangan terhadap fasilitas tersebut berpotensi mengurangi pasokan minyak global dan menjaga harga tetap berada pada level tinggi.
Selain minyak mentah, pasar energi juga mulai memperhatikan tekanan pada pasokan diesel. Gangguan infrastruktur energi di Timur Tengah serta keterbatasan kapasitas penyulingan Rusia membuat ketersediaan bahan bakar diesel semakin ketat. Kondisi tersebut mendorong harga diesel di beberapa pasar utama mencapai rekor tertinggi dan menambah risiko tekanan inflasi energi.
Analisis Newsmaker: Pelemahan harga minyak saat ini lebih mencerminkan berkurangnya kekhawatiran jangka pendek terhadap pasokan dibandingkan berakhirnya risiko geopolitik. Selama konflik Timur Tengah masih berlangsung dan infrastruktur energi tetap menjadi target serangan, premi risiko minyak masih dapat bertahan. Ke depan, pasar akan mencermati kecepatan pemulihan jalur pipa Saudi, perkembangan konflik AS-Iran, serta kondisi pasokan produk energi seperti diesel yang mulai menjadi perhatian baru. (arl)
Sumber : Newsmaker.id