
Trending
.png)
Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia mengalami koreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah mencatat kenaikan tajam hingga mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Minyak Brent untuk pengiriman Desember turun 1,1% menjadi US$115,48 per barel pada pukul 08.01 waktu Singapura, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,2% ke level US$102,05 per barel. Penurunan ini terjadi ketika investor mulai mengevaluasi perkembangan konflik Timur Tengah dan melakukan penyesuaian posisi setelah kenaikan harga yang cukup besar sepanjang pekan sebelumnya.
Dari sisi teknikal, minyak Brent mulai menunjukkan kondisi jenuh beli atau overbought. Indikator Relative Strength Index (RSI) periode 14 hari tercatat melampaui angka 74 pada Jumat, berada di atas batas 70 yang umumnya menjadi sinyal meningkatnya risiko koreksi harga. Meski demikian, tren kenaikan minyak secara keseluruhan masih kuat. Sepanjang 2026, harga Brent telah melonjak sekitar 90% akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak global.
Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor utama yang membatasi penurunan harga minyak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington semakin mendekati keputusan untuk mencapai kesepakatan dengan Iran atau kembali mengambil tindakan militer. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengisyaratkan bahwa serangan dapat dihindari apabila Amerika Serikat mengambil langkah yang rasional. Ketegangan juga meningkat setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sebagai respons terhadap serangan Arab Saudi di Yaman. Situasi ini membuat investor tetap memperhitungkan risiko gangguan pasokan, meskipun pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan mulai pulih mendekati tingkat sebelum perang.
Perhatian pasar kini tertuju pada sejumlah agenda politik dan ekonomi penting, termasuk pemilu Israel pada 27 Oktober, pertemuan Federal Reserve pada 27–28 Oktober, serta pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November. Pelaku pasar menilai risiko eskalasi konflik dapat meningkat setelah pemilu AS, sehingga harga minyak berpotensi tetap tinggi meskipun distribusi mulai membaik. Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, bahkan memperkirakan Brent dapat mencapai US$150 per barel dalam skenario kenaikan ekstrem yang memaksa negara-negara berkembang di Asia mengurangi konsumsi energi akibat harga terlalu mahal.
Ke depan, harga minyak diperkirakan masih mengalami volatilitas tinggi karena pasar menghadapi dua kekuatan yang berlawanan, yaitu pemulihan distribusi minyak dan ancaman konflik yang belum mereda. Jika diplomasi AS-Iran menunjukkan kemajuan dan pasokan tetap lancar, Brent berpotensi melanjutkan koreksi. Sebaliknya, serangan baru terhadap infrastruktur energi atau jalur pelayaran dapat kembali mendorong kenaikan harga. Minyak yang bertahan di atas US$115 juga berisiko memperbesar tekanan inflasi global, sehingga menjadi tantangan bagi bank sentral dalam menentukan arah suku bunga.