
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 ditutup turun 503,51 poin, atau 0,80%, ke level 62.189,65 pada sesi perdagangan Senin (26 Oktober 2026). Penurunan ini menandai pelemahan selama tiga sesi berturut-turut, yang terutama dipicu oleh melemahnya saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor.
Saham-saham yang berkaitan dengan cip kembali menjadi beban utama bagi indeks, menyusul tekanan serupa pada sektor teknologi di Wall Street. Advantest menjadi salah satu penyumbang penurunan terbesar, diikuti oleh Tokyo Electron dan sejumlah saham terkait semikonduktor lainnya. Tren ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap valuasi di sektor teknologi serta prospek investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
Sebaliknya, saham sektor energi menguat seiring dengan harga minyak yang tetap tinggi, didorong oleh kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan di Timur Tengah. Inpex, JGC Holdings, dan Mitsubishi Corp termasuk di antara saham yang mencatatkan kenaikan, sehingga membantu menahan indeks Jepang agar tidak terkoreksi lebih dalam.
Sentimen pasar masih dibayangi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Tingginya harga minyak memicu kekhawatiran mengenai biaya energi di Jepang, sementara para investor terus memantau hubungan antara Amerika Serikat dan Iran serta potensi dampaknya terhadap ekonomi global. Akibatnya, investor kini menjadi lebih selektif dalam menentukan posisi investasi mereka.
Pergerakan Nikkei ke depan akan dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak, kinerja saham teknologi global, laporan laba perusahaan-perusahaan Jepang, serta keputusan mendatang dari Bank of Japan (BoJ). Setelah mengalami koreksi dalam beberapa sesi terakhir, pasar masih menghadapi ketidakpastian yang signifikan menjelang berbagai peristiwa ekonomi penting dan perkembangan kebijakan moneter yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.