
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Senin (31/8) setelah AS dan Iran kembali bertukar serangan untuk pertama kalinya dalam sekitar satu bulan. WTI naik 2,83% dan ditutup di US$85,76 per barel, sementara Brent menguat 2,71% menjadi US$90,49 per barel. Brent bahkan sempat menyentuh US$91,52 selama sesi perdagangan.
Kenaikan terjadi setelah pasukan AS menyerang fasilitas Iran di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di Jordan. Eskalasi tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat semakin mengganggu pengiriman minyak melalui Hormuz.
Selat Hormuz tetap menjadi faktor terpenting bagi fundamental minyak. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut sebelum perang berlangsung, sementara aktivitas kapal komoditas yang terlihat pada akhir pekan turun menjadi sekitar lima kapal per hari. Arus minyak dari negara Teluk memang masih berlangsung, tetapi jauh dari kondisi normal sehingga premi risiko pasokan tetap melekat pada harga crude.
Risiko pasokan semakin tinggi setelah proses diplomasi untuk membuka kembali Hormuz belum menunjukkan kemajuan berarti. Iran dan Oman masih membahas skema pengelolaan jalur tersebut, namun pasar belum melihat indikasi bahwa lalu lintas energi akan segera kembali normal. Kondisi ini membuat trader belum berani menghapus premi geopolitik sepenuhnya.
Di sisi lain, arus minyak yang masih berhasil melewati Hormuz membatasi kenaikan harga. Pelaku pasar menilai selama barel dari produsen Teluk tetap dapat mencapai pasar global, peluang lonjakan minyak yang jauh lebih besar masih tertahan. Dengan kata lain, perhatian trader sekarang bukan hanya pada serangan militer, tetapi pada apakah serangan tersebut benar-benar mengurangi volume pasokan fisik.
Tekanan ekonomi AS terhadap Iran juga menjadi perhatian. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa Washington akan terus menggunakan sanksi untuk menekan ekonomi Iran dan mendorong Tehran kembali ke meja perundingan. Sanksi yang semakin ketat berpotensi membatasi ekspor Iran, tetapi pasar masih menunggu bukti bahwa kebijakan tersebut benar-benar mengurangi suplai secara signifikan.
Pasar juga mempertimbangkan potensi tambahan pasokan dari Venezuela. Pemerintah AS sedang mendorong sejumlah kesepakatan energi yang dapat meningkatkan akses terhadap minyak Venezuela, bahkan Presiden Donald Trump menyebut minyak tersebut dapat digunakan untuk mengisi kembali Strategic Petroleum Reserve AS yang berada dekat level terendah dalam beberapa dekade. Faktor ini berpotensi menjadi penahan kenaikan harga jika produksi Venezuela berhasil meningkat.
Secara lebih luas, prospek minyak masih ditopang kondisi pasar yang ketat. Survei Reuters terhadap analis memperkirakan Brent rata-rata sekitar US$85,08 per barel pada 2026 dan WTI sekitar US$80,20, sementara sejumlah analis masih memperkirakan pasar global mengalami defisit pasokan sepanjang tahun. Namun, pelemahan permintaan China dan peningkatan produksi OPEC+ menjadi faktor yang dapat membatasi rally.
Analisis Newsmaker: fundamental oil saat ini masih memiliki bias bullish karena risiko geopolitik dan gangguan Hormuz, tetapi arah berikutnya sangat bergantung pada pasokan fisik. Selama minyak dari Teluk masih mampu melewati Hormuz, kenaikan berpotensi terbatas. Sebaliknya, jika konflik AS–Iran mulai benar-benar mengganggu arus kapal atau fasilitas energi utama, Brent kembali berpeluang menguji area di atas US$90–US$95. Di sisi lain, deeskalasi atau peningkatan pasokan Venezuela dapat dengan cepat memicu koreksi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id