
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melanjutkan penguatan untuk sesi kedua pada perdagangan Selasa (1/9/2026), setelah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz.
Minyak Brent kontrak November naik sekitar 0,7% ke US$91,11 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober menguat sekitar 1% ke US$86,58 per barel. WTI sebelumnya melonjak 2,8% pada perdagangan Senin, mencatat kenaikan harian terbesar dalam sekitar tiga pekan.
Penguatan minyak terjadi setelah pasukan AS menyerang sebuah pulau di kawasan Selat Hormuz dan Iran membalas dengan serangan terhadap Uni Emirat Arab dan Yordania. Pertukaran serangan tersebut menjadi bentrokan langsung pertama antara kedua negara dalam sekitar satu bulan dan kembali meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi siklus eskalasi yang lebih panjang.
Iran juga menargetkan pangkalan militer AS di Yordania, meskipun media setempat melaporkan rudal berhasil dicegat sebelum menimbulkan kerusakan. Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan Washington akan merespons setiap serangan terhadap pasukan Amerika, sehingga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi aksi balasan lanjutan.
Kepala strategi komoditas global TD Securities Bart Melek menilai ketidakpastian mengenai arah konflik Iran membuat pelaku pasar mengurangi posisi bersih pada minyak mentah. Namun, ia memperkirakan harga minyak masih memiliki peluang naik karena belum ada tanda-tanda bahwa lalu lintas normal melalui Selat Hormuz akan kembali dalam waktu dekat.
Meski ekspor minyak masih berlangsung melalui Hormuz, sebagian kapal tanker dilaporkan mematikan transponder untuk menghindari deteksi. Produsen Teluk seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, dan Irak masih mampu menyalurkan sebagian ekspor, tetapi risiko terhadap kapal yang melintasi jalur tersebut tetap tinggi.
Ancaman terhadap pelayaran kembali terlihat setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terkena tiga proyektil tak dikenal ketika bergerak keluar dari Selat Hormuz dekat Oman. Insiden tersebut semakin menegaskan bahwa jalur pelayaran energi paling strategis di dunia itu masih menghadapi risiko serangan.
Di sisi lain, Abu Dhabi National Oil Co. dilaporkan telah memulihkan kilang Ruwais ke kapasitas penuh setelah sebelumnya mengalami kerusakan akibat konflik. Pemulihan salah satu kilang terbesar dunia itu membantu meningkatkan ekspor diesel dan bahan bakar jet, meskipun pasokan produk olahan secara global masih relatif ketat.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id