
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas spot naik sekitar 1% ke US$4.055,14 per troy ounce pada Selasa (27/10), setelah sempat menyentuh US$3.987,14. Penguatan terjadi ketika harga minyak melemah sehingga kekhawatiran inflasi sedikit mereda, sementara investor menunggu keputusan The Fed untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga AS.
Harga minyak turun lebih dari 1% karena pasar mencermati perkembangan pembicaraan damai di Timur Tengah. Namun, harga energi masih berada di level tinggi akibat konflik Houthi-Arab Saudi dan potensi serangan baru AS-Israel. Jika harga minyak kembali naik, tekanan inflasi dapat meningkat dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan ketat, yang menjadi risiko bagi emas.
Fokus utama pasar kini tertuju pada keputusan The Fed. Bank sentral AS diperkirakan tidak menaikkan suku bunga pada pekan ini, tetapi pasar masih memperkirakan peluang sekitar 83% untuk kenaikan pada Desember. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Investor juga menunggu data PCE AS pada Kamis, indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed dalam mencapai target 2%. Data tersebut dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai kemungkinan arah kebijakan moneter menjelang akhir tahun.
Sementara itu, proyeksi harga emas 2026 kembali dipangkas untuk kuartal kedua berturut-turut akibat tingginya imbal hasil Treasury, dolar AS yang kuat, serta ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Meski demikian, analis masih memperkirakan peluang pemulihan emas pada 2027.
Di pasar logam lainnya, perak naik 0,5% ke US$54,20, platinum menguat 0,3% ke US$1.530,75, sedangkan palladium turun 2,1% ke US$1.027,67. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar logam mulia masih menghadapi tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi, meski emas mendapatkan dukungan dari penurunan harga energi.
Sumber: Newsmaker.id