
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
xHarga emas melemah pada perdagangan Selasa (8/9), karena ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak masih membebani pergerakan pasar. XAU/USD bergerak di sekitar US$4.405,21 per troy ounce, sementara investor menunggu data inflasi AS pekan ini untuk mencari arah kebijakan The Fed berikutnya.
Gold futures turun 0,6% ke US$4.448,11 per troy ounce. Sementara itu, XAG/USD bergerak datar di sekitar US$66,17 per ounce, XPT/USD naik 0,8% ke US$1.838,78, dan Indeks Dolar AS melemah 0,3% ke 98,83.
Pelemahan dolar AS sempat memberi dukungan bagi emas. Tekanan terhadap greenback muncul setelah yen Jepang melanjutkan reli tajam dan mendekati level terkuat tahun ini, seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan dapat menaikkan suku bunga.
Secara umum, dolar AS yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain. Namun, dukungan dari pelemahan dolar belum cukup kuat untuk mendorong emas naik lebih jauh karena sentimen makro masih dibayangi risiko inflasi dan arah suku bunga The Fed.
Harga emas masih bergerak di sekitar area US$4.400 setelah sempat turun tajam pekan lalu. Logam mulia ini cenderung berada dalam rentang terbatas sejak rebound dari area bawah dekat US$4.000 pada Juli.
Tekanan utama datang dari kenaikan harga minyak akibat gangguan di sekitar Selat Hormuz. Brent crude mendekati US$100 per barel setelah bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pasokan energi global.
Pasar saat ini masih memperkirakan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pekan depan. Ekspektasi tersebut menguat setelah laporan Nonfarm Payrolls AS pekan lalu menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat.
Fokus berikutnya tertuju pada data Consumer Price Index AS pekan ini. Data tersebut akan menjadi penentu apakah ekspektasi rate hike tetap bertahan atau mulai mereda, terutama jika tekanan inflasi inti menunjukkan perlambatan.
Di sisi lain, permintaan bank sentral masih menjadi penahan penurunan emas. People’s Bank of China dilaporkan mempercepat pembelian emas pada Agustus ke level bulanan tertinggi sejak 2023, meskipun harga bullion sudah melonjak.
Analisis Newsmaker: Pergerakan emas saat ini masih berada dalam tarik-menarik antara pelemahan dolar AS dan tekanan dari ekspektasi rate hike The Fed. Selama harga minyak tetap tinggi dan inflasi energi meningkat, pasar akan sulit sepenuhnya bullish terhadap emas karena yield Treasury berpotensi ikut naik. Area US$4.400 menjadi level penting yang perlu dijaga. Jika CPI AS panas, XAU/USD berisiko turun menuju US$4.350 hingga US$4.320. Namun, jika inflasi melandai, emas berpeluang kembali menguji area US$4.450 hingga US$4.500. (asd)
Sumber: Newsmaker.id