
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Tekanan agar Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga semakin kuat setelah dua pejabat bank sentral menilai kebijakan saat ini belum cukup menahan perekonomian AS. Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan suku bunga masih terlalu longgar ketika inflasi tetap jauh di atas target 2%.
Komentar hawkish tersebut muncul setelah data terbaru menunjukkan indikator inflasi favorit The Fed naik 3,7% secara tahunan pada Juli. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga belum cukup mereda meskipun suku bunga acuan telah berada di kisaran 3,50%–3,75%.
Schmid bahkan mengatakan dirinya cenderung berada di kubu pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga. Pada pertemuan Juli, tiga anggota FOMC sudah memilih menaikkan suku bunga, sementara risalah rapat menunjukkan beberapa pejabat lain juga melihat pengetatan tambahan diperlukan jika inflasi gagal turun.
Hammack, yang sebelumnya termasuk pihak yang menolak keputusan menahan suku bunga, kembali menegaskan The Fed sebaiknya segera bertindak. Menurutnya, semakin lama inflasi bertahan di atas sasaran, semakin sulit bank sentral mengembalikannya ke target 2%.
Pasar kini akan menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat, terutama setelah muncul perbedaan pandangan yang semakin jelas di internal bank sentral. Pertemuan berikutnya pada 15–16 September berpotensi menjadi salah satu rapat terpenting tahun ini karena peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka.
Analisis Newsmaker: komentar Schmid dan Hammack memperkuat bias hawkish The Fed setelah inflasi kembali menunjukkan tekanan. Jika Warsh juga menekankan risiko inflasi dalam pidatonya, ekspektasi rate hike September berpotensi meningkat, yang dapat menopang dolar dan yield Treasury sekaligus menekan emas. Sebaliknya, jika Warsh lebih menyoroti pelemahan tenaga kerja, pasar masih dapat mempertahankan skenario hold meski dengan bias hawkish. (arl)
Sumber: Newsmaker.id