Wall Street Risk-Off: Tech Rontok, Nasdaq Terseret
Wall Street dibuka melemah pada Kamis (5/2), dan nuansanya jelas: pasar lagi masuk mode risk-off. S&P 500 turun lagi, sementara Nasdaq ikut terseret lebih dalam karena tekanan paling besar datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi jumbo.
Di awal sesi, S&P 500 turun sekitar 1% dan Nasdaq melemah sekitar 1,4%. Dow Jones juga ikut turun 0,7%, dengan pelemahan ratusan poin saat investor mengurangi posisi di aset yang dianggap “terlalu ramai” beberapa minggu terakhir.
Pemicu utamanya datang dari laporan kinerja Alphabet. Investor bukan cuma lihat angka laba, tapi juga “biaya masa depan”: Alphabet memproyeksikan lonjakan belanja AI dan menyiapkan rencana belanja modal yang besar hingga 2026. Pasar membacanya sebagai sinyal: pertumbuhan masih ada, tapi tagihannya juga makin mahal — dan itu bikin sahamnya langsung terpukul.
Tekanan makin komplet karena Qualcomm ikut ambruk setelah memberi outlook yang lebih lemah dari perkiraan. Kekhawatiran soal rantai pasok, termasuk isu ketersediaan komponen/memori, bikin pelaku pasar makin defensif terhadap sektor semikonduktor.
Bukan cuma saham. Di sisi lain, pasar kripto juga ikut panas: Bitcoin sempat tembus ke bawah $70.000, level psikologis yang banyak trader anggap sebagai support penting. Ketika level itu goyah, sentimen risk-off makin kebawa ke mana-mana.
Logam mulia pun nggak tenang. Perak balik dihantam jualan dan sempat turun tajam, mematahkan rebound dua hari sebelumnya. Volatilitasnya masih ekstrem setelah penurunan besar yang terjadi pekan lalu, jadi pergerakannya gampang “melebar” saat likuiditas menipis.
Dari sisi makro, pasar juga dapat tambahan alasan buat waspada. Data PHK versi Challenger menunjukkan jumlah pengumuman pemutusan kerja melonjak dan jadi yang tertinggi untuk bulan Januari sejak krisis finansial global. Ditambah, klaim pengangguran awal ikut naik lebih tinggi dari perkiraan — bikin kekhawatiran soal kondisi pasar tenaga kerja AS kembali menguat.
Kesimpulannya: kombinasi teknologi yang tertekan, kripto goyah, perak volatil, dan sinyal tenaga kerja yang melemah bikin investor memilih aman dulu. Fokus pasar sekarang: apakah ini sekadar koreksi sehat, atau awal dari fase risk-off yang lebih panjang. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id