Saham Asia Ikut Ngebut, Tapi Minyak & Yen Kasih Sinyal Bahaya, Ada Apa Pagi Ini?
Bursa Asia dibuka menguat ngikutin Wall Street setelah data tenaga kerja AS bikin sentimen risk-on lanjut jalan. Australia, Korea Selatan, dan futures indeks Hong Kong kompak naik, terinspirasi dari S&P 500 yang naik dan menutup perdagangan di rekor tertinggi.
Penguatan di AS terjadi setelah rilis data pekerjaan yang relatif “aman”: jumlah pekerja baru sedikit di bawah perkiraan, tapi tingkat pengangguran justru turun ke 4,4%. Ini bikin pasar tetap percaya peluang pemangkasan suku bunga masih ada, walau ritmenya bisa lebih pelan.
Satu risiko besar masih menggantung: isu tarif Trump belum “diputus” karena Mahkamah Agung AS belum ikut campur. Jadi ketidakpastian soal tarif masih ada, hanya saja efeknya ke pasar seperti “ketunda dulu”.
Di pasar mata uang, yen kembali melemah setelah Jumat ditutup di level terlemah dalam setahun. Pelemahan ini ikut dipengaruhi spekulasi politik di Jepang (potensi perubahan dinamika politik), sementara dolar bergerak campur terhadap mata uang negara maju.
Komoditas ikut memanas: minyak naik lagi karena aksi protes di Iran makin intens dan penindakan makin keras. Kondisi ini bikin pasar fokus ke risiko gangguan pasokan, karena kalau situasi Iran makin liar, dampaknya bisa mengubah peta geopolitik dan pasar energi global.
Saham teknologi Asia juga berpotensi dapat dorongan setelah laporan pendapatan TSMC mengalahkan ekspektasi, menambah tenaga untuk “AI trade”. Hari ini pasar juga memantau agenda G7 soal rare earths, serta komentar pejabat bank sentral AS yang bisa menggeser ekspektasi suku bunga.
5 Poin Inti
- Saham Asia dibuka naik, ngikutin reli Wall Street.
- Data pekerjaan AS “cukup bagus” untuk menjaga optimisme pasar.
- Risiko tarif AS masih menggantung, cuma efeknya tertahan dulu.
- Yen melemah lagi, dolar bergerak campur.
- Minyak naik karena tensi Iran, risiko pasokan jadi sorotan utama.(asd)
Sumber: Newsmaker.id