Saham Asia Naik Tipis Jelang Data Jobs AS & Putusan Tarif
Bursa saham Asia menguat tipis pada awal perdagangan setelah dua hari melemah di awal tahun. Investor cenderung menahan posisi sambil menunggu rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (nonfarm payrolls) dan potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif Presiden Donald Trump.
Indeks saham dibuka menguat di Jepang dan Australia, sementara Korea Selatan tertinggal. Di Wall Street, S&P 500 ditutup datar pada Kamis, namun ada tekanan di saham teknologi besar seperti Nvidia—menandakan pasar mulai lebih selektif.
Fokus pasar kini tertuju pada dua agenda besar: data payrolls AS dan keputusan hukum soal tarif. Rebound saham setelah tekanan akibat isu tarif sebelumnya akan diuji lagi, karena putusan pengadilan bisa memicu perubahan sentimen risiko secara cepat.
Terlihat juga pergeseran defensif: dana mulai berputar keluar dari saham teknologi besar yang valuasinya tinggi menuju saham perusahaan kecil. Indeks Russell 2000 tercatat mengungguli Nasdaq 100 sekitar 4 poin persentase dalam lima sesi pertama 2026, salah satu start terbaik yang pernah terjadi.
Untuk data tenaga kerja, konsensus memperkirakan AS menambah sekitar 70.000 pekerjaan pada Desember, sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan turun ke 4,5%. Pasar uang masih memperhitungkan peluang setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed masing-masing 25 bps sepanjang 2026.
Di pasar lain, dolar bertahan menguat, minyak melanjutkan kenaikan karena investor memantau perkembangan Venezuela dan Iran, sementara emas cenderung stabil dan perak melanjutkan koreksi dari rekor minggu ini. Di Asia, investor juga memantau rilis data kawasan seperti inflasi dan harga produsen China, kepercayaan konsumen Indonesia, serta produksi industri Malaysia, di tengah perhatian pada dinamika hubungan China–Jepang.(asd)
Sumber: Newsmaker.id